ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Uncategorized

TNI Melanggar Jeda Kemanusiaan Aceh

TRAGEDI NASUH;
TNI MENYERANG SAAT JEDA KEMANUSIAAN

Dor…tembakan pertama diarahkan kepada Pang Ali yang baru akan masuk markas Pasukan Daerah IV GAM Wilayah Linge setelah selesai berwudhu’ untuk menunaikan shalat subuh. Seketika beliau syahid setelah peluru musuh menembus kepala dan dadanya.

Belum sedetik sudah ribuan peluru dimuntahkan dari ujung senjata musuh jenis minimi, M-16, SS-1 dan sesekali melepas pelontar TP suaranya menggelegar dan memekakkan telinga.

Di tengah hujan peluru musuh, Pang Ma’ruf yang baru saja menyelesaikan shalat subuh, sempat menarik Pang Ali ke tempat yang aman, tetapi beliau sudah syahid.

Penyerangan subuh pukul 06:00 kurang, pada minggu pagi buta di bulan Januari 2003 itu sama sekali tidak pernah diduga. Sebagian besar pasukan masih tertidur lelap; Tengku Syamsuddin atau Pang Panjer, Tengku Dami atau Pang Syiah Kuala, Tengku Surya atau Pang Koboi, Pang Dona, Tengku Mutia atau Pang Krincing dan Pang Amri terbangun oleh suara tembakan yang membabi buta.

Pasukan berlindung di pojok sebelah timur markas itu yang dindingnya rapat dengan tanah yang tingginya sejajar dengan atapnya. Sehingga peluru musuh menyasar bagian tengah dan depan markas.

Mereka kualahan menahan serpihan peluru pelontar yang mengenai benda-benda keras di dalam markas itu. Pang Ma’ruf, Pang Karem, Pang Panjer dan Pang Geuteres terkena serpihannya.

Pasukan semakin panik, berusaha keluar dari rumah yang dikepung itu dengan menggali tanah di bawah dindingnya, namun terlalu keras. Sehingga mereka urung melakukannya. Mereka berusaha membuka pintu di sebelah utara markas itu, namun sasaran peluru masih belum berhenti ke arah pintu itu.

Penyerangan “letter L” dan penembakan itu tidak berhenti. Beruntung Tengku Fajar atau Pang Rega membalas tembakan dengan AK-47 dari balik pohon durian besar di sebelah barat rumah itu. Sehingga musuh terpecah konsentrasinya, sebagian peluru musuh menembak ke arah Pang Rega.

Rega memilih tidur di luar rumah karena sudah ada firasat buruk yang akan terjadi kepada pasukan, namun beliau enggan menceritakannya. Apalagi pada masa itu, sedang berlangsung “jeda kemanusiaan” yakni para pihak yang berkonflik tidak boleh saling menyerang.

Sementara pasukan musuh menyerang ke arah Pang Rega, Tengku Mutia atau Pang Krincing membuka pintu belakang markas. Ketika itu beliau sempat tertembak pada kaki kirinya. Pang Bensu juga tertembak pada bagian pinggulnya dan Pang Dona pada bagian pahanya.

Setelah lebih dari 30 menit pasukan terkurung dalam markas itu, baru mereka lolos. Kemudian pasukan terus berlari ke arah utara menuju pematang daerah kebun kopi robusta masyarakat. Mereka tidak jauh pergi dari markas tempat mereka diserang, tetapi posisi sudah di atas, musuh tidak sembarangan lagi mengejar mereka.

Pasukan berusaha bertahan di tempat itu dan tidak sanggup lagi berjalan karena Pang Krincing, Pang Bensu dan Pang Dona harus digendong. Mereka tidak lagi bisa berjalan karena racun peluru musuh sudah mulai terasa.

Sementara musuh terus menembaki rumah itu, sampai dua jam lebih. Sampai mereka benar-benar yakin tidak ada lagi perlawanan dari dalam rumah itu.

Pada pukul 08:00 penyerangan oleh TNI gabungan; organik, BKO dan SGI berhenti. Setelah mengeluarkan jenazah Pang Ali, mereka membakar markas itu dan terdengar suara ledakan beberapa kali dari bom rakitan milik pasukan yang ada dalam rumah itu.

Pasukan yang terluka diobati dengan rumput sawinimo atau sawi hutan untuk menghentikan keluarnya darah dan supaya lukanya tidak infeksi.

Baru pada Senin paginya pasukan bertemu dengan masyarakat Jamat dan melaporkan peristiwa itu kepada JSC di Kota Takengon.

Tim JSC mengevakuasi pasukan yang luka tembak dan yang terkena serpihan peluru pelontar TP dan diobati ke RS Datu Beru Takengon. Namun karena khawatir masalah keamanan maka dipindahkan ke RS Fauziah Bireuen.

Mereka hanya di rawat tiga hari di rumah sakit. Setelah itu mereka beristirahat di kampung Kenawat Delung. Kemudian kembali lagi ke Jamat, namun selalu dalam pantauan JSC agar tidak terjadi lagi penyerangan terhadap pasukan GAM.

Penyerangan yang ilegal itu terjadi di Kampung Nasuh Tue. Memang hanya ada tiga rumah di sana. Salah satu rumah masyarakat tersebut dijadikan markas pasukan Daerah IV selama Jeda Kemanusiaan.

Jalan menuju kampung tersebut harus melewati lumpe (jembatan darurat). Pasukan Daerah IV sudah berada di sana selama seminggu. Sebelumnya mereka membangun Kamp di Uluni Bayur, Jamat.

Sebelum tragedi itu terjadi, masing-masing dalam diri pasukan sudah ada firasat; badan letih, hati tidak tenang, apalagi tidak seorangpun masyarakat di sana pada malam itu dengan alasan sedang ada acara kenduri di kampung, namun dalam fikiran masing-masing pribadi mereka, tidak mungkin ada penyerangan karena masih dalam suasana Jeda Kemanusiaan. Sehingga semua pasukan bersantai menikmati suasana jeda perang.

Pasukan musuh berasal dari Kota Takengon melewati Kampung Isaq dan Waq langsung ke Kampung Linge dengan menggunakan truck Colt Dissel. Supaya tidak diketahui masyarakat dan khawatir bocor kepada pasukan GAM, mereka sepanjang perjalanan tiarap di dalam truck itu.

Dari Kampung Linge mereka berjalan kaki ke Jamat lewat hutan. Pada sore harinya mereka sudah berada di sekitar lokasi markas GAM, namun tidak langsung menyerang karena pasukan masih berpencar-pencar. Mereka menunggu waktu subuh agar tidak ada lagi satu orang pasukan GAM yang selamat.

(Mendale, Sabtu, 30 Mei 2020)

Copas FB pang Kopi

Related posts
Uncategorized

BAI''AT PARA PEMIMPIN NEGARA ACEH

wilayah berdaulat, 17 Januari 2022. Rapat tahunan Neugara Aceh Darussalam. Saya atas nama Abu Arafah selaku Biro penerangan Tentara Negara Aceh Darussalam…
Uncategorized

AMANAT PANGLIMA PRANG TNAD DALAM MILAD AM KE 45 THOEN

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.Syukur Alhamdulilah,segala puji bagi Allah yang masih mentakdirkan Hidup kita dalam Iman dan Islam, serta sehat badan dan pikiran.Selawat…
Uncategorized

AMANAT PANGLIMA TNAD DI HARI KEBANGSAAN NEGARA ATJÉH DARUSSALAM KE 44

Amamat Panglima Angkatan Prang Teuntra Negara Atjéh Darussalam dalam Ulang Tahun yang ke-44 AM 4/12/1976-4/12/ 2020 Apakah Perjuangan Negara Aceh dikatagorikan ilegal…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *