ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Dalam NegeriSejarah Aceh

Untuk Wali Negara Dari Wali Tengku Hasan Bukan Untuk Wali Nanggroe Ala Jawa Dalam UUD1945 – Pancasila

◼Dekrit “Keramat” Wali Negara Aceh Tengku Hasan di Tiro ||

▪Banyak pihak bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang akan menggantikan tugas Wali Negara Aceh Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Baik saat beliau berhalangan maupun ketika beliau tiada. Secara resmi, kala kabinet Aceh Merdeka sudah terbentuk, Wali Neugara mengeluarkan Surat Keputusan penting terkait hal ini.

▪Surat Keputusan atau Dekrit Wali Negara Aceh ini setau saya belum pernah dibatalkan, baik dalam rapat-rapat penting GAM maupun dalam Deklarasi Stevenger di Norwegia pada 21 Juli 2002. Sehingga, banyak pihak terjebak menempatkan narasi sejarah penting Aceh Merdeka khususnya tugas dan fungsi yang akan menggantikan sang Wali.

▪Keputusan ini dikeluarkan oleh Tengku Hasan pada Tanggal 15 Maret 1979 di Camp Bateë Iliëk II. Camp terakhir (Camp ke-41) sejak kepulangan Tengku Hasan di Tiro ke Aceh pada 1976. Dari Camp inilah, beliau memimpin rapat dan upacara terakhir Aceh Merdeka sejak kepulangannya ke Aceh. Karena, 13 hari sesudah itu (28 Maret 1979) beliau berangkat ke luar negeri melalui perairan Batëe Iliëk.

▪Di Camp ini juga, semua anggota staf Aceh Merdeka menerima seragam militer yang diberikan oleh beberapa orang di Keudé Djeunib. Dalam catatan Aceh Merdeka, Batée Iliëk memiliki sejarah penting. Karena, disini adalah tempat bersejarah perang dahsyat antara Aceh dan Belanda pada tahun 1905. Belanda kala itu dibawah kepemimpinan Van Heutz.

▪Bahkan sebelumnya, Jenderal Belanda Karel van der Heijden pernah kehilangan satu mata nya di Batëe Ilïek akibat tembakan mujahidin Aceh pada 14 Agustus 1877. Hingga dia dijuluki “Jenderal Buta Siblah”. Dalam catatan Aceh, disini juga tempat seorang Panglima Perang Batëe Iliëk yang gagah berani; Panglima Nalan. Beliau adalah tangan kanan dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Dan, Panglima Nalan adalah eyang dari Tengku Idris Ahmad Gubernur Aceh Merdeka Wilayah Batëe Iliëk yang Syahid bersama Teungku Ilyas Leubée, dan Tgk. Yacob Piah pada 15 April 1982.

▪Di Batëe Iliëk ini juga, seorang ulama pejuang yang dikenal dengan Teungku Chik di Kuta Glée (Teungku Syaikh Abdurrahim) bersemanyam. Bahkan, dari sini juga Mujahidah Aceh Pocut Meuligöe berasal. Maka, Batëe Iliëk adalah tempat detik-detik akhir sejarah Aceh menoreh tinta emasnya.

▪Dalam versi asli buku The Price of Freedom: the unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro (Koleksi Leiden) terbitan 1982. Wali Negara menulis Dekrit ini dengan katanya:

?”I signed a Decree stipulating that in my absence the State of Acheh Sumatra shall be governed by the Council of Ministes headed by a Prime Minister and with several Deputy Prime Ministers who, in case of death will replace one another in succession .

The Prime Minister is Dr. Muchtar Hasbi with Tengku Ilyas Leubè as First Deputy, Dr. Husaini Hasan the Second Deputy, Dr. Zaini Abdullah the Third Deputy, and Dr. Zubir Mahmud, the Fourth Deputy. That precedent is established by their order of seniority in the leadership of the NLF.

The Central Committee of the NLF shall act the emergency legislature to ratify the acts of the Cabinet”

?”Saya menandatangani Keputusan yang menetapkan kondisi Negara Aceh Sumatra apabila saya tidak ada. Maka, Aceh Sumatra Merdeka akan diatur oleh Dewan Menteri yang dipimpin oleh Perdana Menteri bersama beberapa Wakil Perdana Menteri. Jika mereka meninggal akan mengantikan satu sama lain secara berurutan”

“Perdana Menteri adalah Dr. Muchtar Hasbi dengan Teungku Ilyas Leubée sebagai Wakil Pertama; Dr. Husaini Hasan Wakil Perdana Menteri Kedua; Dr. Zaini Abdullah Wakil Perdana Menteri Ketiga; Dr. Zubir Mahmud Wakil Perdana Menteri Keempat. Urutan ini ditetapkan berdasarkan senioritas mereka dalam kepemimpinan NLF – National Liberation Front”

“Komite Sentral Aceh Merdeka akan bertindak sebagai Legislatif darurat untuk meratifikasi setiap tindakan Kabinet”

▪Dekrit “Keramat” Wali Negara ini mendeskripsikan urutan kepemimpinan resmi dalam Aceh Merdeka, kala gerakan ini didirikan oleh Tengku. Bahkan, Dekrit ini menjelaskan kepada generasi Aceh selanjutnya siapa sebenarnya yang lebih senior dalam Aceh Merdeka.

▪Itulah nama dan urutan yang disebutkan oleh Tengku dalam Dekritnya. Jika dilihat lebih jauh, saat ini hanya dua orang yang masih hidup sebagai Sentral Komite Aceh Merdeka yakni Dr. Husaini Hasan dan Dr. Zaini Abdullah. Melihat urutan senioritas mereka, maka Dr. Husaini Hasan adalah penerima resmi Dekrit Wali Negara Aceh.

▪Dengan sengaja, Tengku Hasan di Tiro mengeluarkan Dekrit bersejarah ini ditempat yang penuh dengan darah dan air mata pahlawan Aceh sebagai pesan bahwa Sejarah tidak boleh dan tidak bisa dikhianati oleh siapapun. Terlepas dari apapun, sejarah adalah harga yang harus kita bayar dengan sangat mahal!

Salam
Haekal Afifa | Pegiat Tiroisme

Related posts
Luar NegeriSejarah Aceh

Penjahat HAM Wajib Di Adili Baik Dari GAM Maupun TNI RI

Berkenanaan Pada tanggal 10 Desember, dunia memperingati Hari HAM Internasional terkait dengandeklarasi Universal HAM yang diadopsi Majelis Umum PBB pad tahun 1948….
Dalam NegeriDokumenHot News

Seu eue, Wartawan Puja TV dengoen Djaweub staf Biro TAM

Salam ukeu Droneuh Peujuang dan Bangsa Atjeh yang That Teugaseh. Na seu eue Djaweub di miyup njoe, ngoen Staf Biro Peuneurangan keumandoe…
Dalam NegeriSejarah Aceh

Penjelasan Tentang Majeulis Dewan Pertahanan Neugara Islam Atjeh Darussalam

Antara Wali Negara Achèh ke-I: Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhmammad Saman dengan Sultan Teuku Daud Shah (I) Bapak Adi Fa, kalau dikatakan,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *