by

Tanggapan Ketua Presidium ASNLF Tentang Polimik Bendera Bulan Bintang

Terkait dengan penolakan dari ASNLF tersebut, Pemimpin Redaksi jurnTerkait dengan penolakan dari ASNLF tersebut, Pemimpin Redaksi jurnalatjeh.com mencoba mewawancarai langsung ketua Presedium ASNLF Ariffadhillah di jerman dengan menggunakan bahasa Aceh yang redaksi terjemahkan dalam bahasa Indonesia, Rabu, 6 Mei 2015.

Jurnalatjeh.com: “Apa alasan ASNLF menolak bendera bintang bulan dijadikan Bendera Propinsi Aceh?”

Ariffadhillah: “Semua masyarakat tahu bahkan dunia Internasional tahu bahwa bendera bulan Bintang adalah bendera simbol pergerakan perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan untuk berdirinya Negara Aceh yang berdaulat, dan hal ini juga sesuai dengan telah diterimanya bendera bintang bulan sebagai bendera perjuangan ASNLF kedalam UNPO (The Unrepresented Nations and Peoples Organization) yaitu sebuah badan internasional, yang didirikan pada tahun 1991,dan mempunyai 41 anggota dari bangsa-bangsa pribumi yang tidak diakui, minoritas dan wilayah-wilayah jajahan. Selain memiliki kantor pusat di Den Haag, Belanda, UNPO juga punya kantor advokasi di Brussel, Belgia, dimana sebagian besar institusi-institusi Uni Eropa berkedudukan. Pada prinsipnya ASNLF mengecam jika bendera bulan bintang dijadikan bendera propinsi Aceh”.

Jurnalatjeh.com: “Saat ini di Aceh pasca gagal dinaikkan bendera Bulan Bintang di halaman gedung DPRA timbul pro dan kontra di dalam masyarakat, apa pendapat anda ?

Ariffadhillah: Saya kira terjadinya pro dan kontra karena tidak mengerti duduk persoalan sebenarnya dalam persoalan bendera bulan bintang ini, padahal jelas dalam bendera Bulan Bintang ada spirit yang cukup kuat untuk mendirikan kedaulatan Aceh, spirit itulah yang cukup ditakuti oleh lawan, dan pihak lawan akan terus berusaha untuk menjatuhkan spirit atau menghilangkan spirit Aceh merdeka dengan berbagai macam cara, disamping juga dalam persoalan itu jelas ada sikap emosional dalam berpolitik yang tidak terkontrol.”

Jurnalatjeh.com: “Jika seandainya bendera BB diterima oleh Pemerintah Pusat jadi bendera propinsi Aceh sebagaimana yang sedang diperjuangkan oleh DPRA sesuai dengan amanah MOU Helsinki, apakah ini berarti spirit yang anda maksudkan tadi mengecil bahkan menghilang?”

Ariffadhillah: “Spirit itu tetap menyala dan tidak akan kendur, dan ASNLF tidak ada urusan dengan mekanisme dalam NKRI, yang jelas ASNLF tetap menggunakan simbol itu (BB – red) mulai dari awal perjuang ASNLF yang dicetuskan oleh Alm Tgk Hasan di Tiro hingga saat ini, dan perlu diketahui bahwa MOU Helsinki itu akan sama nasibnya dengan Ikrar Lamteh yang tetap akan merugikan bagi rakyat Aceh.”alatjeh.com mencoba mewawancarai langsung ketua Presedium ASNLF AriffadhillTerkait dengan penolakan dari ASNLF tersebut, Pemimpin Redaksi jurnalatjeh.com mencoba mewawancarai langsung ketua Presedium ASNLF Ariffadhillah di jerman dengan menggunakan bahasa Aceh yang redaksi terjemahkan dalam bahasa Indonesia, Rabu, 6 Mei 2015.

Jurnalatjeh.com: “Apa alasan ASNLF menolak bendera bintang bulan dijadikan Bendera Propinsi Aceh?”

Ariffadhillah: “Semua masyarakat tahu bahkan dunia Internasional tahu bahwa bendera bulan Bintang adalah bendera simbol pergerakan perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan untuk berdirinya Negara Aceh yang berdaulat, dan hal ini juga sesuai dengan telah diterimanya bendera bintang bulan sebagai bendera perjuangan ASNLF kedalam UNPO (The Unrepresented Nations and Peoples Organization) yaitu sebuah badan internasional, yang didirikan pada tahun 1991,dan mempunyai 41 anggota dari bangsa-bangsa pribumi yang tidak diakui, minoritas dan wilayah-wilayah jajahan. Selain memiliki kantor pusat di Den Haag, Belanda, UNPO juga punya kantor advokasi di Brussel, Belgia, dimana sebagian besar institusi-institusi Uni Eropa berkedudukan. Pada prinsipnya ASNLF mengecam jika bendera bulan bintang dijadikan bendera propinsi Aceh”.

Jurnalatjeh.com: “Saat ini di Aceh pasca gagal dinaikkan bendera Bulan Bintang di halaman gedung DPRA timbul pro dan kontra di dalam masyarakat, apa pendapat anda ?

Ariffadhillah: Saya kira terjadinya pro dan kontra karena tidak mengerti duduk persoalan sebenarnya dalam persoalan bendera bulan bintang ini, padahal jelas dalam bendera Bulan Bintang ada spirit yang cukup kuat untuk mendirikan kedaulatan Aceh, spirit itulah yang cukup ditakuti oleh lawan, dan pihak lawan akan terus berusaha untuk menjatuhkan spirit atau menghilangkan spirit Aceh merdeka dengan berbagai macam cara, disamping juga dalam persoalan itu jelas ada sikap emosional dalam berpolitik yang tidak terkontrol.”

Jurnalatjeh.com: “Jika seandainya bendera BB diterima oleh Pemerintah Pusat jadi bendera propinsi Aceh sebagaimana yang sedang diperjuangkan oleh DPRA sesuai dengan amanah MOU Helsinki, apakah ini berarti spirit yang anda maksudkan tadi mengecil bahkan menghilang?”

Ariffadhillah: “Spirit itu tetap menyala dan tidak akan kendur, dan ASNLF tidak ada urusan dengan mekanisme dalam NKRI, yang jelas ASNLF tetap menggunakan simbol itu (BB – red) mulai dari awal perjuang ASNLF yang dicetuskan oleh Alm Tgk Hasan di Tiro hingga saat ini, dan perlu diketahui bahwa MOU Helsinki itu akan sama nasibnya dengan Ikrar Lamteh yang tetap akan merugikan bagi rakyat Aceh.”ah di jerman dengan menggunakan bahasa Aceh yang redaksi terjemahkan dalam bahasa Indonesia, Rabu, 6 Mei 2015.

Jurnalatjeh.com: “Apa alasan ASNLF menolak bendera bintang bulan dijadikan Bendera Propinsi Aceh?”

Ariffadhillah: “Semua masyarakat tahu bahkan dunia Internasional tahu bahwa bendera bulan Bintang adalah bendera simbol pergerakan perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan untuk berdirinya Negara Aceh yang berdaulat, dan hal ini juga sesuai dengan telah diterimanya bendera bintang bulan sebagai bendera perjuangan ASNLF kedalam UNPO (The Unrepresented Nations and Peoples Organization) yaitu sebuah badan internasional, yang didirikan pada tahun 1991,dan mempunyai 41 anggota dari bangsa-bangsa pribumi yang tidak diakui, minoritas dan wilayah-wilayah jajahan. Selain memiliki kantor pusat di Den Haag, Belanda, UNPO juga punya kantor advokasi di Brussel, Belgia, dimana sebagian besar institusi-institusi Uni Eropa berkedudukan. Pada prinsipnya ASNLF mengecam jika bendera bulan bintang dijadikan bendera propinsi Aceh”.

Jurnalatjeh.com: “Saat ini di Aceh pasca gagal dinaikkan bendera Bulan Bintang di halaman gedung DPRA timbul pro dan kontra di dalam masyarakat, apa pendapat anda ?

Ariffadhillah: Saya kira terjadinya pro dan kontra karena tidak mengerti duduk persoalan sebenarnya dalam persoalan bendera bulan bintang ini, padahal jelas dalam bendera Bulan Bintang ada spirit yang cukup kuat untuk mendirikan kedaulatan Aceh, spirit itulah yang cukup ditakuti oleh lawan, dan pihak lawan akan terus berusaha untuk menjatuhkan spirit atau menghilangkan spirit Aceh merdeka dengan berbagai macam cara, disamping juga dalam persoalan itu jelas ada sikap emosional dalam berpolitik yang tidak terkontrol.”

Jurnalatjeh.com: “Jika seandainya bendera BB diterima oleh Pemerintah Pusat jadi bendera propinsi Aceh sebagaimana yang sedang diperjuangkan oleh DPRA sesuai dengan amanah MOU Helsinki, apakah ini berarti spirit yang anda maksudkan tadi mengecil bahkan menghilang?”

Ariffadhillah: “Spirit itu tetap menyala dan tidak akan kendur, dan ASNLF tidak ada urusan dengan mekanisme dalam NKRI, yang jelas ASNLF tetap menggunakan simbol itu (BB – red) mulai dari awal perjuang ASNLF yang dicetuskan oleh Alm Tgk Hasan di Tiro hingga saat ini, dan perlu diketahui bahwa MOU Helsinki itu akan sama nasibnya dengan Ikrar Lamteh yang tetap akan merugikan bagi rakyat Aceh.”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed