by

Surya Dharma Alias Robert, Kisah yang terlupakan

SURYA DHARMA ALIAS ROBERT: “KARENA ABRI BERBUAT JAHAT, KAMI JUGA…”
Catatan wawancara Tgk Banda / Surya Darma. _______________________________________________________
IA TERMASUK TOKOH GAM YANG PALING SERING DISEBUT-SEBUT KARENA POSISINYA SEBAGAI PANGLIMA TENTARA GAM. NAMANYA MENCUAT PADA AKSI GAM PADA 1989-1992. INILAH PENUTURANNYA IHWAL SELUK-BELUK GAM.
Selain Hasan Tiro, tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang paling sering disebut-sebut adalah Dharma Bakti alias Surya Dharma alias Robert.
Bekas anggota ABRI berpangkat prajurit satu ini kondang saat GAM gencar beraksi pada 1989-1992. Kala itu, ia disebut-sebut sebagai salah satu Panglima Tentara GAM yang beroperasi di Aceh Timur dan Aceh Utara.
Akibat sepak terjangnya, Robert dihukum mati secara in absentia oleh Pengadilan Negeri Lhokseumawe pada 1993. Menurut pengakuannya, ia sudah menjadi buron ke luar negeri sejak 10 tahun sebelumnya. Kini, menyusul peristiwa berdarah Lhokseumawe, nama Robert kembali disebut-sebut. Kamis petang pekan silam, dengan suara lembut yang terkadang berubah keras jika mengungkap peristiwa suram, ia menerima Riana T. Tuasikal, koresponden FORUM di Kualalumpur, Malaysia, untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya.
Mengapa Anda ikut GAM?
Semua orang Aceh wajib ikut GAM. Saya sudah bersimpati pada GAM sejak masih di ABRI. Saya sempat ditahan bersama beberapa tahanan GAM. Saya tertarik karena mereka tetap salat walau di penjara. Tetapi, ABRI yang digaji pemerintah malah berjudi, minum-minuman keras, dan sebagainya. Sejak itu saya tertarik dan terlibat. Banyak anggota ABRI lainnya yang bersimpati pada GAM.
Apa Anda tidak takut risiko ditembak mati?
Saya tahu risiko itu. Tetapi, itu tak terpikirkan sama sekali. Sebab,
saya berjuang karena Allah. Dulu peluru banyak di sekitar saya, tapi
saya tak pernah kena. Kalau kita berbuat baik, insya Allah di dalam
laut pun kita baik. Bahkan, sejak menikah, istri saya ikut berjuang.
Dia juga memanggul senjata.
Apa yang Anda harapkan dari GAM?
Saya aktif di GAM benar-benar karena Tuhan. Pangkat saya di GAM saya tak tahu. Karena, saya tak berpikir tentang itu. Kalau karena pangkat, saya tak akan berjuang. Dulu saya militer di sebuah kompi Lhokseumawe.
Tetapi, kami sebagai militer selalu merasa sebagai raja. Berbuat apa
saja tidak ada yang menghalangi. Jadi, saya tak mau lagi dan keluar
dari ABRI. Setelah keluar dan aktif di GAM, saya lalu lari ke Malaysia
pada 1983.
Mengapa nama Anda tetap disebut-sebut dalam tiap peristiwa berdarah di Aceh?
Peristiwa apa pun selalu dikaitkan dengan saya. Padahal saya di sini.
Tetapi, sebagai pejuang, risiko itu harus ditanggung.
Berapa kali Anda terlibat pertempuran dengan ABRI?
Banyak. Kalau diceritakan panjang sekali. Saya tak takut berperang, ambil senjata ABRI, atau gorok leher orang. Sekarang boleh dikatakan saya “rehat” sebentar. Kita beri kesempatan pada yang muda-muda. Kalau umur saya panjang dan sekiranya ulama bangkit, saya akan kembali. Ini wajib.
Mengapa harus berjuang dengan senjata?
GAM sudah lama mempergunakan senjata dan saya kira semua negara menggunakan senjata untuk mempertahankan diri. Wajar saja. Kami tidak mencari-cari masalah. Kalau ABRI baik, tak mungkin kita macam-macam. Karena ABRI berbuat jahat, kami buat jahat juga.
Tetapi, orang Aceh tak suka kepada GAM.
Hubungan GAM dengan rakyat di kampung insya Allah selalu baik. Rakyat tak benci GAM. Yang menimbulkan kebencian mereka terhadap GAM adalah ABRI, karena mereka menakut-nakuti dan menyiksa penduduk. Terlampau lalim. Mereka mengatakan, jangankan si Robert, malaikat yang datang pun saya tembak. Omongan macam apa itu? Orang Aceh tak takut berperang, tapi paling takut malu. Sebab, orang Aceh itu beragama. Kelak, kalau ulama sudah bangun, semua akan bangun. Selama ini ulama Aceh tidak muncul. Sebab, kalau muncul, dia yang pertama dibunuh tentara.
Pemerintah menuding GAM sebagai gerakan pengacau keamanan (GPK)
Orang Aceh bukan GPK. Sebab, orang Aceh tak pergi ke Jawa untuk
merampas harta orang Jawa. Orang Aceh di negeri sendiri. Orang Jawa yang pergi ke Aceh mengambil harta, memukul orang, dan memperkosa.
Jadi, kami mempertahankan diri, bukan mengacau. Kalau diberi otonomi, saya tidak mau. Walau otonom dan gubernurnya orang Aceh, tetapi yang memerintah pusat, akan sama saja. Kami tetap dijajah.
Bagaimana hubungan dan koordinasi para aktivis GAM?
Sampai sekarang komunikasi di antara anggota GAM masih berlangsung. Kadang kita bertemu di Aceh, Pattani (Thailand Selatan), Johor (Malaysia), dan Swedia. Tetap ada hubungan.
Dananya dari mana?
Dana di Malaysia dikumpulkan dari sumbangan orang Aceh sendiri.
Sepertinya sedikit. Tapi, kalau sudah dikumpulkan banyak sekali. Dana perjuangan GAM murni dari orang Aceh sendiri. Yang paling besar menyumbang adalah orang Aceh di Malaysia.
Kini, gara-gara GAM, banyak orang desa yang ditahan aparat?
Sebenarnya yang mesti ditahan bukan orang Aceh, tapi antek-antek
Soeharto. Merekalah penyebab masalahnya. Mereka perlu digantung. Jika Soeharto dan kroni-kroninya dipenjarakan, masalah Aceh hanya sekejap saja diselesaikan.
Pernahkah pemerintah mencoba berunding dengan Anda?
Saya selalu dipanggil oleh Duta Besar (RI di Malaysia). Tetapi, saya
tak mau kalau hanya sekadar makan ayam goreng.
Robert Atau Surya Dharma Lebih Dikenal Tgk. Banda Karena Frofesi Beliau Sebagai Panglima Pertama Wilayah Kuta Radja. Beliau Wafat Di Malaysia Tahun 2007.

Penulis: Zeefee Atjeh

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed