ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Dalam NegeriSejarah Aceh

Penjelasan Tentang Majeulis Dewan Pertahanan Neugara Islam Atjeh Darussalam

Antara Wali Negara Achèh ke-I: Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhmammad Saman dengan Sultan Teuku Daud Shah (I)

Bapak Adi Fa,
kalau dikatakan, yang ditahun 1874 Teuku Daod Shah, berumur 7 tahun, maka ketika diusia berapakah beliau menyerah diri, setelah dipaksakan turun dari Tanoh Gayo, karena keluarga di Keumala, telah di sandera oleh Agressor Penjajah Belanda, sebelum kita hitung-menghitung yang 30 tahun itu.

Tengku Haji Mohammad Saman berjuang dengan memimpin pasukan dan begitu juga dengan kesemua anak-anak beliau dan terakhir cucunya.

Ikut sejarahnya, Tuanku Hasyim Banta Muda, siapa yang disebut-sebut, sebagai sosok yang paling layak sebagai pengganti Sultan Mahmud Shah, tetapi kiranya beliau menolak untuk hanya duduk disingahsana dan memilih medan perang untuk ikut berjuang.

Tuanku Hasyim Banta Muda, setelah beberapa waktu bersama Tengku ‘Tjhik di Tiro, Muhammad Saman, dimedan perang, beliau berpindah ke Manyak Paéëd, dan memikul tugas bersama-sama Nyak Hasan di sana.

Mulanya Nyak Hasan ditugaskan menjadi Panglima Pertahanan Laut Manyak Paéëd, tetapi kemudian, tugas itu diambil alih oleh beliau sendiri, agar beliau lebih mudah berulak-alik Manyak Paéëd – Penang p.p, untuk membuat urusan logistik perang agar dapat terus membantu Tengku ‘Tjhi Di Tiro Muhammad Saman, siapa yang sangat beliau hormati itu.

Nyak Hasan (juga selaku adik ipar beliau), telah beliau tugaskan untuk tugas baru sebagai Panglima Pertahanan Laut Pulau Sampoë (Pulau Kampai), sebagaimana terceritakan juga dalam buku Achèh Sepanjang Abad (II) oleh Mohammad Said dan kabarnya beliu terus lama disana.

Nyak Hasan, siapa yang dijodohkan dengan adik dari Tjut Puloë, istri Tuanku Hasyim Banta Muda: Tjut Aminah, yang adalah juga nenek perempuan ibu kami.

Tuanku Hasyim Banta Muda, adalah (sebagai) juga sebagai kakek ibu kami, siapa yang telah membela (menjaga) putra lelaki Nyak Hasan, ayah dari ibu kami, dari sejak kecil (sejak Nyak Hasan rebah-syahid sekembali dari tugas di Pulau Sampoë -Pulau Kampai), bersama-sama dengan Tuanku Ibrahim bin Tuanku Hasyim Banta Muda, sehingga ayah ibu kami itu, sempat mengungguli sebagai sipenembak tepat.

Begitu lama Tengku’ Tjhik di Tiro Mohammad Saman dan Putra-Putra serta cucu, berjuang dimedan perang sedangkan Tuanku Hasyim Banta Muda, berbeda medan perangnya: Panglima Pertahanan Laut Manyak Paéëd.

Jadi tidaklah sampai demikian Bapak Adi Fa, mengecilkan perjuangan Tengku ‘Tjhik di Tiro Mohammad Saman, Wali Negara Negara Achèh I, Mandataris Ke-Sultan-an Achèh dan kesemua putra-putra beliau serta salah seorang cucunya: Tengku ‘Tjhik Ma’at di Tiro.

Ditanyakan: Adakah pemimpin perjuangan medan perang lainnya setelah rebah-syahid Tengku ‘Tjhik di Tiro, Ma’at?, yang mana ketika Tengku ‘Tjhik di Tiro, Ma’at, reubah-syahid ditahun 1911, Sultan Teuku Daod Shah, telah berumur 44 tahun, tetapi walau sudah di pengasingan, tetapi tidakpun pernah berjuang untuk membangun medan juang Achèh dari sana, sedangkan Tengku ‘Tjhik di Tiro. Ma’at, telah ditabal sebagai pemimpin perjuangan dimedan perang, dan berperang diketika usia beliau 9 (sembilan) tahun.

Nah, Bapak Adi Fa, tentu akan bisa mencarikannya didunia manakah, yang ada perjuangan menantang Agressor Penjajah Eropah, seperti keluarga-keluarga Rumoh (Istana) Tiro, yang sangat dihormati itu?!

Dan lagi, yang cucu Tengku ‘Tjhik di Tiro Mohammad Saman: Tengku Tjhi di Tiro, Ma’at, ikut bersama-sama pejuang-pejuang Achèh di mana mana medan perang,

Silakan membandingkanya dengan Sultan Daod Shah, yang setelah dipaksa turun menyerah diri, lantas hanya tinggal di Dalam (Istana) saja., sehingga berumur 37 Tahun, sebelum diasingkan keluar Achèh oleh Agressor Penjajah Belanda

Kami baca beberapa hari yang lalu, telah terceritakan prihal Tjut Putroë (almarhumah) dengan sebuah pesanan (amanah) yang katanya telah disampaikan langsung kepada Pak Drs Nabhani, tetapi dengan sedikit keterangan kami ini, kiranya sudah memadailah dulu, sebagai telah meresponkannya juga.

Diharapkan tidaklah meremehkan perjuangan keluarga Rumoh (Istana) Tiro, yang tersanjung tinggi itu!!!

Kamipun pernah tinggal bersama keluarga dari kerabat keluarga Keumala, di Titeuë.

Silakan membandingkan dibawah ini:

(Almarhummah) Tjut Putroë, menerima Pengharagaan dari pentabalan Keumalahayati, sebagai Pahlawan Nasional, di Istana Negara, serta dimeriahkan dan Surat Pengharagaan sebagai Pahlawan Nasional itu, diserahkan langsung oleh Presiden R.I ke-7: Bapak Ir Joko Widodo, sedangkan Surat Penghargaan dari pentabalan Tengku Tjhik Di Tiro Muhammad Saman, sebagai Pahlawan Nasional, tidakpun diserahkan lansung oleh Presiden ke- 2: Bapak Suharto dan juga bukan di Istana Negara, tetapi hanya diserahkan lewat Bupati Kabupaten Achèh Timur: Drs Ayub Yusuf.

Dan ahli waris Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhammad Saman (Pahlawan Nasional): Tengku Idris Tiro, tidakpun dipanggil ke Pendopo Bupati, Kabupaten Achèh Timur, sekaliannya untuk dimeriahkan, tetapi hanya dihantar langsung kekediaman Tengku Idris Tiro, di Laga Meurak, Tualang Tjut, Manyak Paéëd, Achèh Timur, yang mana saat itu Tengku Idris Tiro, sedang mencangkul tanah ladangnya, sebagai bentuk pri kehidupan yang tersangat perit dari keluarga pejuang Achèh lalu itu.

Nah, silakan merenungkannya dari perlakuan yang berbeda, malahan dengan sesiapapun, sipenerima pentabalan sebagai Pahlawan Nasional lainnya di Nusantara.

Lanjut k2

Antara Wali Negara Achèh ke-I: Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhamammad Saman dengan Sultan Teuku Daod Shah (II)

——“Proklamasi Kemerdekaan Negara Achèh Sumatra 4 Desember, 1976”—- sesungguhnya adalah sebagai tanggal starting pelurusan sejarah Kerajaan (Negara) Achèh, secara garis tegak-vertikal!

Bapak Adi Fa,
Sementara ini, yang sempat saya kutipkan dari tulisan Bapak Adi Fa sendiri adalah baru 6 (enam) poin dulu, sebagaimana tertera dibawah ini:

(1) – Adi Fa: Pernyataan anda menuduh saya mengecilkan peran tgk chik muhammad saman adalah salah besar.dan tertolak semua nya.

(2) – Adi Fa: Ga ada mandad itu..fabrikan history itu.

(3) – Adi Fa: Jika ada penyerahan mandat kekuasaan itu mana buktinya?

(4) – Adi Fa: Pat takup.nyo ka kon ka ji pamer le hasan tiro.

(5) – Adi Fa: Mahmud syah syahid tdk meninggal kan anak.oleh pembesar aceh di angkat lah ponakan nya daodsyah di tengah berkecamuk perang dimana orang irang kala itu ga mau memikir kan siapa sultan..twk hasyim ga mau jadi sultan.yg peting berperang mengusir belanda—-eh sekarang ada makluk bahlul yg menafi kan “peran sultan daodsyah yg berjuang selama 30 tahun melawan belanda.lebih lama dari perjuangan tgk saman ditiro dan anak anak nya.

(6) – Adi Fa: jika ada penyerahan mandat kekuasaan itu mana buktinya? sungguh lucu narasi sejarah ug ditulis kan oleh sejarawan yg mengatakan pemangku adat yg trrduri dari twk hasyim.panglima polem dan twk raja keumala.menyerah kan kedaulatan kpd golongan ulama.

Bapak Adi Fa
Agressor Penjajah Belanda ingat dengan dipaksakkannya Sultan Teuku Daod Shah, menyerah diri agar “Sultan Achèh” itu, akan menyerahkan Kedaulatan {(sovereignty) Kerajaan (Negara)} Achèh, pada Agessor Penjajah Belanda, sebagaimana raja-raja atau sultan-sultan di Pulau Jawa dan raja-raja atau sultan-sultan di Nusantara lainnya, yang telah pernah ditaklukkan oleh Agressor Penjajah Belanda sebelum-sebelumnya, tetapi kiranya —nothing —meugapu ranup pih hana”— dalam balum dan dalam reugam hana meuseutjilèt gambéë pih.

Setelah dijelaskan oleh pihak keluarga, yang Kuasa Daulat Kesultanan Achèh, telah dimandatariskan kepada Tengku ‘Tjhik di Tiro, Muhammad Saman, siapa yang kemudian terlantik sebagai Wali Negara Achèh ke-I, maka oleh Agressor Penjajah Belanda, terpaksalah juga memperlakukan “sultan tjilik” itu selayaknya, sebagaimana perlakuan mereka perbuat terhadap sultan-sultan “gedek” di Jokyakarta dan Surakarta dan lain-lain sultan di Pulau Jawa.

Mengikut tulisan dari ahli akademik sejarah Nusantara (bukan ahli sejarah Achèh (atau silakan membaca buku lama, sebelum ahli akademi sejarah Achèh, pernah tahu menulis sejarah Achèh-nya), bahwa beliau ketika itu baru berusia 12 tahun, ditahun 1879, sehingga diperkenakanlah “bersinggahsana” sehingga berumur 37 tahun.

Sudah diperjelaskan terhadap apa yang telah diperlihatkan dalam Reuni Achèh Ke-2 di Medan, tentang kedaulatan (sovereignty) Kerajaan (Negara) Achèh, yang tidak pernah diserahkan pada Agressor Penjajah Belanda, dikarenakan ketika Sultan Teuku Daod Shah, menyerah diri, sememangnya tidak pernahpun didapati walaupun seugapu ranup dalam balum dan dalam reugam neuh, dan meugambéë hana pih meueusitjilèt.

Kehadiran bersamanya Tengku ‘Tjhik di Tiro Mohammad Saman dan Tuanku Hasyim Banta Muda, selaku mantan Menteri Pertahanan Kerajaan (Negara) Achèh, di medan perang, setelah Pemandatarisan Kesultanan Achèh, dan selaku Ketua Majelis Negara Achèh, sebelum beliau dan Nyak Hasan, berangkat ke Pertahanan Laut Manyak Paéëd.

Saya kira telah terjelaskan juga dengan sayungan yang saya tuliskan itu.

Ketahuilah dan juga patut dimaklumi bahwa, hanya Dr Tengku Hasan Muhmammad di Tiro LLD, orang yang paling menghormati institusi ber-Raja dan ber-Sultan, di Achèh sedangkan pihak lain, atau katakanlah pihak Sultan Teuku Daod Shah dan keluarga sendiri tidak.

Kami juga suka akan kehendak untuk mengetahui, kenapa Adi Fa sampai demikian kiranya atau siapanya Teku Daod Shah, yang kami hormati itu terhadap Adi Fa?

Masak kami sempat dituduh suka memfitnah orang dalam FB……………………………………?

Walaupun sudah diperbantahkan oleh Adi Fa, sedemikian rupa, tetapi begitupun, biarlah kami sodorkan juga, lembaraan yang bisa dilihat dalam Buku Dr Tengku Hasan di Tiro LLD: The Price of Fredoom (Jum Merdèhka) – Unfinished Dairy. yang disana terdapat keterangan sebagai pembuktian adanya Pemadatarisan itu.

Kalau juga Adi Fa, seperti yang lain, yang pernah meremehkannya, yah terserahlah dan sayapun masih juga suka menuggunya bentuk dan sifat pengremehan itu, agar dapat meresponkannya.

Bapak Adi Fa,
kalau bapak Adi Fa, mau mengguna-pakai cara Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro LLD, menuliskan kembali sejarah Achèh, ikut cara garis tegak-vertikal, ketika membangun Negara Sinambung (Successor State): Negara Achèh Sumatra, maka akan terlihatlah ketimpangan semua sejarah yang pernah ditulis di Achèh dan di Nusantara, oleh para akademik, sebagai sejarah fabikasi melulu.

{bersambung: Antara Wali Negara Achèh ke-I: Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhmammad Saman dengan Sultan Teuku Daod Shah (III)}

Lanjut k3

Antara Wali Negara Achèh ke-I: Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhmammad Saman dengan Sultan Teuku Daod Shah (III),

——“Proklamasi Kemerdekaan Negara Achèh Sumatra 4 Desember, 1976”—— sesungguhnya adalah sebagai tanggal, bulan dan tahunnya starting pelurusan sejarah Kerajaan (Negara) Achèh, secara garis tegak-vertikal!

Apa yang dikatakan oleh Adi Fa, terhadap Tengku ‘Thjik di Tiro Mohammad Saman, sangat memeranjatkan kami:

…………………….lebih lama lagi perjuangan Teuku Daod Shah, siapa yang telah berjuang lebih dari 30 tahun, ketimbang perjuangan yang dilakukan oleh Tengku ‘Tjhik di Tiro Mohammad Saman……………….

Kami telah lama membiarkan dia itu, Adi Fa itu, dari mengatakan yang janggal-janggal terhadap Tengku ‘Tjhik di Tiro dan Putra-Putranya serta termasuk juga Hasan Tiro (Tengku ‘Tjhik di Tiro Dr Mohammad Hasan LLD) sendiri, karena mengira dia itu, anak kecil yang masih bayi, anak kecil yang masih baby.

Nah, Selasa pagi ini, teryakinlah sudah, akan bacaan kami terhadap struktur kejiwaannya, dari apa-apa yang telah Adi Fa katakan terhadap Tengku Tjhik di Tiro, Mohammad Saman lewat sealinia dibawah ini lagi:

————–Adi Fa: tdk usah terperanjat begitu pak tjut.fakta nya memang begitu.bukan nengecil kan perjuangan tgk chik ditiro.fakta nya beliau hanya beberapa tahun saja berjuang kemudian di racun oleh wanuta tua yg meletak kan racun dlm brukik goreng nya————

Terperanjatnya kami lagi adalah, bagaimana Adi Fa, membilangkan Teuku Daod Shah, telah berjuang selama 30 tahun, sedangkan fakta dan kenyataannya selama 30 tahun itu, hidupnya mewah dalam istana, bertidur-tiduran dikasur empuk, terbalut dengan tebalnya kain selimut, sehingga tidak seekor nyamukpun datang menggigit dan tidak pernahpun tersiram hujan, terterpa teriknya matahari dan 30 tahun setelahnya, bersenang – lenang pula di Pulau Jawa, katup mata, sumbat telinga, melupakan Tanoh Achèh bumoë Iskandar Muda, dan anak-anak bangsa Achèh, serta menjauhkan diri dari memperdulikan Tanoh Achèh, bumi Iskandar Muda dan anak bangsa Achèh, siapa-siapa yang diseluruh dunia, diketahui mencintai Tengku-Tjhik di Tironya, sehingga Teuku Daod Shah itu, beranak pinak disana, setelah R.I. merdeka menjadi Republiken yang kental, lagi solid.
.

Ketika perang berkecamuk sikecil Teuku Daod Shah yang usia nya 6 menjelang 7 tahun itu, dipakaikan pakaian “Sultan Achèh”, walaupun ukurannya kebesaran, sedangkan Tengku ‘Tjhik di Tiro, Mohammad Saman sanggup menerima uniform seragam perang yang dijubahi oleh Tuanku Hasyim Banta Muda, Putra Mahkota Kesultanan Achèh, Ketua Majelis Negara Achèh, untuk siap masuk medan perang dan berjuang membela bansa dan mempertahankan negara.

Tuanku Hasyim Banta Muda, selaku Putra Mahkota Kesultanan Achèh, selaku Ketua Majelis Negara Achèh, telah memandatariskan Mandat Kesultanan Achèh kepada Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, tetapi masih ada yang coba memfitnahkannya pula, dengan bertanya mana buktinya?

Buktinya adalah:
(1) – Diri Tuankun Hasyim Banta Muda sendiri, selaku Putra Mahkota Kesultanan Achèh dan selaku Ketua Ahli Majelis Negara, yang menyempatkan diri beliau bersama Tengku ‘Tjhik di Tiro Mohmmad Saman di medan perang.

(2) – Selembar Nota Kemandatarisan Sultan Achèh, yang sesiapa bisa membacanya dalam: The Price of Freedom (Jum Merdèhka) – Unfinished Dairy oleh Dr Tengku Hasan Mohammad di Tiro LLD,

(3) – Kesediaan Tengku ‘Tjhik di Tiro memangku amanah kemandatarisan Sultan Achèh, untuk memebela bansa dan mempertahankan negara, bumi Iskandar Muda.

(4) – Sebaik Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, reubah-syahid, lantas putra-putra beliau silih berganti-ganti memangkukan amanah ke- Mandataris Kesultanan Achèh itu, tampa lagi berdalih-dalih, sehingga kesemua Putra-Putra Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, reubah-syahid.

(5) – Pasukan dari Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, dan Putra-Putra terus berjuang dan kesemua mereka membawahi diri, dibawah payung komando Tengku Tjhik di Tiro, Ma’at, cucu dari Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, yang kemudian reubah-syahid pada 3 Desember, 1911 AD dengan memeluk:

———” Selembar Nota Kemandatarisan Sultan Achèh”, yang pernah dianugrahkan kepada Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, oleh Tuanku Hasyim Banta Muda, selaku Putra Mahkota Kesultanan Achèh, selaku Ketua Majelis Negara Achèh (sebagai bukti kuat dan undisputable) kesahihannya”–
walaupun diantara “ahli-ahli sejarah Achèh” dan Adi Fa, yang masih bayi, yang masih baby,itu, yang telah jadi jagoan ber-Google itu, telah berulang-kali mencemo-ohkannya.

(6) – Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, sebagai Wali Negara Achèh, Wali Negara ke-I dan sebagai Panglima Pertinggi- Chief in Command, dan juga sebagai Panglima Perang di medan perang dan di medan juang!

Nah, lagi diulangi kepada sesiapa yang telah mendabik diri —ahli sejarah Achèh—- dan Adi Fa, yang masih bayi dan masih baby itu, ditanyakan dimana dimuka dunia ini, yang ada sosok seperti Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, dan Putra-Putra serta cucu, yang bersedia mengorbankan darah, harta, tenaga dan nyawa seperti beliau itu dari Rumôh Tiro, demi membela bansa dan dan demi mempertahankan kedaultanan negara.

Maka konon pula kemudiannya hendak dijadikan bandingan sebagai pembanding dengan Teuku Daod Shah, yang telah mengkatup mata, menyumbat telinga dan menjauhkan diri dari memperdulikan Tanoh Achèh, bumoë Iskandar Muda dan anak bangsa Achèh, siapa-siapa yang seluruh dunia mencintai Tengku -Tjhik di Tironya.

{bersambung: Antara Wali Negara Achèh ke-I: Tengku ‘Tjhik di Tiro Muhmammad Saman dengan Sultan Teuku Daod Shah (IV),

Neususoen Uleh : Tjut Rahmani

Related posts
Dalam NegeriSejarah Aceh

Untuk Wali Negara Dari Wali Tengku Hasan Bukan Untuk Wali Nanggroe Ala Jawa Dalam UUD1945 - Pancasila

◼Dekrit “Keramat” Wali Negara Aceh Tengku Hasan di Tiro || ▪Banyak pihak bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang akan menggantikan tugas Wali Negara Aceh…
Luar NegeriSejarah Aceh

Penjahat HAM Wajib Di Adili Baik Dari GAM Maupun TNI RI

Berkenanaan Pada tanggal 10 Desember, dunia memperingati Hari HAM Internasional terkait dengandeklarasi Universal HAM yang diadopsi Majelis Umum PBB pad tahun 1948….
Dalam NegeriDokumenHot News

Seu eue, Wartawan Puja TV dengoen Djaweub staf Biro TAM

Salam ukeu Droneuh Peujuang dan Bangsa Atjeh yang That Teugaseh. Na seu eue Djaweub di miyup njoe, ngoen Staf Biro Peuneurangan keumandoe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *