ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Hot NewsPahlawan AcehPejuang AcehSejarah Aceh

Pejuang HAM “Munir”, Pahlawan Orang Aceh

PEJUANG HAM ” MUNIR”, PAHLAWAN ORANG ACEH

::: Setelah Teungku Bantaqiah dan puluhan
santrinya dibantai di pesantren pada 23 Juli
1999, Munir sering datang ke tempat tersebut dan berjuang agar pelakunya diadili. :::

Munir Said Thalib meninggal karena diracun saat dalam perjalanan ke Belanda pada 7 September 2004. Bagi masyarakat Aceh khususnya korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), Munir yang adalah aktivis HAM itu sangat dikenal karena pria ini sangat vokal membantu pengungkapan kekerasan di Aceh yang dilakukan oleh aparat negara.

Perjuangan penegakan HAM yang dilakukan Munir dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, terutama rakyat Aceh yang berupaya memperoleh keadilan akibat pelanggaran HAM oleh aparat keamanan semasa Daerah Operasi Militer (DOM) hingga Darurat Sipil.

Seorang warga Kabupaten Aceh Besar, Ramadhan, menyebutkan saat konflik bersenjata melanda Aceh, Munir merupakan salah satu aktivis HAM yang sangat vokal membela para korban. “Dia sangat dekat dengan masyarakat Aceh, dia dianggap sebagai pahlawan HAM,” tegas Ramadhan.

Ia juga mengatakan perjuangan yang dilakukan Munir bersama aktivis HAM lainnya telah membuka mata dunia, bahwa pernah terjadi pelanggaran HAM di Aceh yang dilakukan oleh aparat negara.

::MESJID MUNIR::

Bertahun-tahun masyarakat Aceh tidak bisa bersuara lantang, namun sejak adanya teriakan Munir, kasus pelanggaran HAM di Aceh mulai diketahui banyak orang, sambungnya. Untuk menghormati dan menghargai perjuangan Munir terhadap hak asasi warga Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya yang dilakukan oleh aparat militer, warga setempat menobatkan suami dari Suciwati itu sebagai nama sebuah mesjid.

Mesjid Munir, begitu warga memberi nama mesjid di kompleks Pesantren Babul A’la Nurila. Pesantren ini didirikan oleh Teungku Bantaqiah di Desa Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh.

Menurut pengakuan seorang penduduk Beutong Ateuh, Ridwan, masyarakat Beutong Ateuh menobatkan nama Munir sebagai nama mesjid bukan tanpa alasan. Setelah Teungku Bantaqiah dan puluhan santrinya dibantai di pesantren tersebut pada 23 Juli 1999, Munir sering datang ke tempat tersebut dan ikut memperjuangkan agar pelaku pembantaian yang telah menewaskan sosok ulama yang sangat dihormati oleh warga setempat itu diadili.

“Setelah pembantaian Teungku Bantaqiah, Munir sering datang ke Beutong Ateuh dan menggunakan tempat itu untuk bertemu masyarakat bahkan menginap di mesjid tersebut. Berhari-hari Munir menginap di mesjid itu, hingga warga memberi nama Mesjid Munir,” sebut Ridwan, keponakan Teungku Bantaqiah itu.

Ia menuturkan bahwa sebelumnya pemberian nama mesjid tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena konflik masih melanda Aceh. Namun setelah Munir meninggal di dalam pesawat Garuda pada 7 September 2004 dan kesepakatan perdamaian terwujud di Aceh, warga Beutong berani terus terang menyebut Mesjid Munir.

Untuk mengenang meninggalnya Munir, aktivis HAM di Aceh juga menggelar unjukrasa di Simpang Lima, Kota Banda Aceh. Mereka menuntut pemerintah menuntaskan pelanggaran HAM masa lalu.

Salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Bardan Saidi menegaskan publik harus tahu bahwa penegakan HAM di Indonesia masih sangat lemah, bahkan pemerintah masih enggan mengungkap kasus pelanggaran HAM. Padahal, penegakan HAM merupakan harga mati, pemerintah harus segera mengusut tuntas pelanggaran HAM masa lalu termasuk menuntaskan kasus kematian Munir.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh, Hendra Saputra menyebutkan, melupakan kasus pelanggaran HAM terhadap Munir sama dengan melupakan sejarah Aceh dan Indonesia. Pemerintah harus segera mengungkap siapa aktor intelektual kematian Munir. “Aktor intelektual yang membunuh Munir harus segera diungkap. Harus diakui juga Munir telah menyelesaikan konflik Aceh,” ujar Hendra.

Selama ini pemerintah baru mengungkapkan pelaku lapangan, tetapi aktor intelektual hingga sekarang belum terungkap. “Yang sangat mengecewakan, Presiden Jokowi telah memberikan pembebasan bersyarat kepada pelaku lapangan pembunuh Munir. Ini merupakan bentuk preseden buruk dalam penegakan HAM di tanah air ini,” lanjut Hendra.
Sumber : Sinar Harapan

Related posts
BeritaHot News

MATI SYAHID UMMAT ISLAM ACEH, DALAM PERANG MENGUSIR INDONESIA'

KENAPA ACEH WAJIB MENJAGA KEMERDEKAAN’ Amalan wajib dengan Ilmu Sebab Ilmu adalah Ruhnya amalan. Allah perintahkan melalui Rasullah bagi ummat Islam untuk…
AgamaPejuang Aceh

PERJUANGAN ACEH, PERJUANGAN ISLAM.

“Perjuangan Aceh, Adalah perjuangan Islam” Ruh Aceh Adalah Islam, Ruh Islam Adalah Amalan, Ruh Amalan Adalah Ilmu Islam.. Ilmu adalah Nur –…
Hot News

Djawaban Staf Biro TNAD Tentang Siapa Musuh Pejuang?

1.na yang sereng that kheun meunoe di Facebook” hai pakon hana neu musyawarah bek saleng meudawa, sesama keudro dro dan bangsa ?…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *