by

PANGLIMA AGAM TEUNGKU ABDULLAH SYAFI’I SERING DIBERITAKAN TELAH SYAHID

TEUNGKU ABDULLAH SYAFI’I
SERING DIBERITAKAN TELAH SYAHID

Pada hari ini, 18 tahun lalu, tepatnya 22 Januari 2002, Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafi’I syahid bersama istrinya Cut Fatimah dan dua orang pengawal setianya dalam sebuah pengepungan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya.

Berita syahidnya Teungku Lah-begitu pasukan menyebut Teungku Abdullah Syafi’I-cepat menyebar di kalangan pasukan GAM. Kami hampir tidak percaya karena sudah sering diberitakan bahwa Teungku Lah telah syahid. Sehingga kami tidak percaya lagi kalau ada berita yang sama.

Sebelumnya pada 16 Januari 2000 di lokasi yang sama, di hutan Jim-jim, Dandim Pidie, Letkol TNI Iskandar menyatakan bahwa Teungku Lah telah tewas pada saat pengepungan dan kontak tembak dengan TNI. “Pak Dandim” semakin yakin karena tidak ada siaran pers dari Teungku Lah, kalau benar beliau selamat. Berdiam diri tanpa berita di media bukanlah kebiasaan Teungku Lah yang terkenal dekat dengan wartawan.

Media Indonesia, sebuah koran terbitan Jakarta, juga menyebutkan, Teungku Lah sejak 4 Pebruari 2000 berada di Jakarta untuk berobat. Sehingga Kadispen Polri, Kol. Dadang Garnida pada Kamis 24 Pebruari 2000 bereaksi kepada media, “Polisi akan mencari dan menangkapnya kalau benar seperti yang dikabarkan bahwa Panglima GAM berada di Jakarta.”

Presiden RI, Abdurrahman Wahid mendengar syahidnya Teungku Lah berdo’a agar Allah memanjangkan umur Panglima GAM Teungku Abdullah Syafi’i. Pernyataan tersebut menjawab pertanyaan jama’ah Perguruan Islam Az Ziyadah di Mesjid Al-Husnah di Duren Sawit, Jakarta Timur. Jama’ah tersebut menanyakan kepada Gus Dur tentang kesimpangsiuran syahidnya Teungku Lah. TNI menyatakan telah sekarat, tetapi media memberitakan Teungku Lah sehat wal’afiat.

Pada saat kami berjumpa dengan Teungku Abdullah Syafi’I di rumah Teungku Ilyas Pasee (Panglima D IV Wilayah Pasee) di Bate Vila, Nisam, Aceh Utara pada tahun 2001. Beliau datang sendiri dengan mengendarai sepeda motor RX King.

Setelah turun dari sepeda motornya langsung menyapa kami dalam Bahasa Gayo. Saya sedikit heran! Ternyata, beliau faseh berbahasa Gayo karena pada saat Jakarta memberlakukan DOM di Aceh, beliau pernah tinggal di Kampung Atang Jungket, Aceh Tengah bersama Teungku Amat. Beliau juga pernah bersembunyi dengan Abu Razak dan Teungku Rahman Paloh di rumah Teungku Angkasah di Kampung Sukarami, Bener Meriah. Mereka membuat gedung di kebun kopi milik Teungku Angkasah di belakang rumahnya sebagai tempat persembunyian.

Saya bertemu dengan Teungku Lah hanya mendampingi Teungku Ilham Ilyas Leubee (Panglima GAM Wilayah Linge) membicarakan strategi pergerakan GAM di Gayo. Semula kami yang akan berangkat ke Komando Pusat Tiro di Wilayah Pidie, tetapi Teungku Lah ingin bertemu kami di Wilayah Pasee.

Sebelum pembicaraan resmi dimulai, kami bicara “ngalor ngidul” yang tidak jelas ujung pangkalnya, sampailah kami pada pertanyaan, “Bagaimana dengan pengepungan TNI terhadap Teungku pada tanggal 16 Januari 2000?” Spontan beliau menjawab, “Saya kena tembak!” jawabnya dengan senyum. Saya dengan Teungku Ilham saling memandang.

Lalu Teungku Lah menceritakan bahwa beliau pernah bertapa belajar “ilmu ghaib” dengan cara kallut, menyendiri, tidak makan dan minum. Beliau tidak tahu sudah berapa lama kallut, yang jelas rambutnya dari pendek sampai selesai kallut sudah sepanjang di bawah pinggang. Beliau pulang ke rumah dan melihatnya ibunya sedang menampih padi yang baru ditumbuknya.

“Assalamualaikum Mak…Mak..Mak” kata Teungku Lah beberapa kali mengucap salam dan memanggil ibunya, tetapi ibunya tidak menjawab. Sesekali melihat ke kanan dan kiri karena memang tidak melihat siapapun. Ibunya hanya mendengar suara. Teungku Lah berusaha mendekati ibunya, “Mak, nyoe ulon” (Mak ini saya). Ibunya membuang tampinya dan lari masuk ke dalam rumah, dirinya ketakutan karena suaranya begitu jelas tetapi orangnya tiada wujud. Kiranya Teungku Lah lupa kalau ada syarat yang harus dibaca baru tubuhnya tampak oleh manusia.

Mendengar cerita Teungku Lah kami tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa kami terdengar sampai ke luar rumah. Sehingga Teungku Ilyas Pasee dan Muallim Muzakkir Manaf masuk ingin mendengar cerita kami, tetapi Teungku Lah diam dan mengalihkan pembicaraan ke lain topik.

Mengingat ceritanya, ekpresinya, gaya bahasa dan bertuturnya rasanya baru kemarin kami berjumpa dengan Teungku Lah. Padahal ceritanya sudah 19 tahun lalu. Itulah buktinya sejarah kapanpun ditulis akan tetap aktual. Kami yakin bahwa Teungku Abdullah Syafi’i, padanya berlaku Surat Ali-Imran ayat 169, “Janganlah engkau sebut mereka yang gugur di jalan Allah itu mati, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki.”

(Mendale, 22 Januari 2020)

Pang Kopi Gayo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed