by

“Menjadi Kapten Perompak Bukan Pilihanku”

Menjadi Kapten Perompak bukan pilihanku.

#Bioarabasta_bagian_1

Sejatinya aku adalah keturunan petani. Sejak kecil almarhum ayah mengajarkan menanam. Kita memberi kehidupan anakku kata beliau, walau hasil dari tangannya yang kapalan akibat mencangkul itu menjadi santapan empuk para tengkulak.

Beliau yang berulangkali dikhianati telah membuat hatiku meringgis. Para Ulee Balang tak lebih dari sekumpulan penjilat yang korup, kharaj yang mereka kenakan sangat tinggi bahkan jika Sultan mengetahui akan terkejut akan kezaliman mereka. Tapi tak pernah ada yang melaporkan hal ini pada Po Teumeuruhom karena mulut kami terkunci. Aku menahan air mata ketika tubuh rapuhnya menyerah pada kematian.

Aku tak mau menjadi petani sumpahku ketika itu, aku ingin menjadi pedagang besar dengan Kapal lintas benua. Aku meninggalkan negeri itu, tempat aku dan nenek moyangku dilahirkan.

Pelayaran setelah menelan kekecewaan tak terampunkan di negeri sendiri. Bertahun aku bertahan dalam mimpi yang sama hingga pengalamanku di Skandinavia telah merenggut cita-citaku. Bahkan kembali aku telah dikhianati seperti halnya ayahku dulu. Dunia membuka mataku sekali lagi bahwa tak ada tempat bagi orang jujur dan naif. Aku benci negeriku dan aku pergi tidak untuk kembali.

Kapten lanun haruslah kejam, Durjana itulah julukanku. Paling tidak harus menampakkan kebengisan. Senyum diwajahku ketika memancung kepala Kapten pelaut Belanda. Menghancurkan skuadron Meriam berbendera Portugis. Bahkan Kapal perang kerajaan Inggris sekalipun tak membuatku gentar.

Pelaut Viking kuperlakukan dengan sangat kejam yang tak pernah terbayangkan oleh mereka bahkan dalam mimpinya yang paling buruk. Kuhindari merompak kapal-kapal kaum muslimin. Bahkan aku yang sudah bejat ini tak mampu mengangkat pedang kepada sesama muslim. Kuhindari bentrokan dengan para Pasya Utsmaniyah dan tabikku untuk Phinisi para pendekar Bugis.

Rencongku penuh darah, Bintang Kejora telah berubah menjadi Bintang Hitam yang berarti kematian. Perjalanan damai melintasi selat malaka, laut jawa, Laut Arafuru dan Samudera Pasific berubah menjadi pelayaran hitam di Samudera Atlantik, Laut Hitam, Laut Merah dan sekarang di Samudera Hindia.

Ketika para awak kapal dengan sekoci menuju Gujarat menuju rumah bordir terbaik. Aku masih setia dengan Bintang Hitam dialah kekasihku dalam sunyi bersama bintang-bintang dilangit yang menjadi penghiburan hatiku selama ini. Aku masih tetap orang naif yang merasa dirinya suci walau bergelimang darah.

Tubuhku terlalu agung untuk disentuh pelacur-pelacur dari belahan dunia manapun, termasuk tubuh molek Bengali yang termasyur diantara para Pelaut. Aku hanya boleh dimiliki oleh seseorang dan pastinya ia bukanlah perempuan biasa, karena ia adalah istriku kelak tempat sosok tanpa cinta sepertiku menyerahkan segenap cinta manusia hanya kepadanya.

Dari mulut kelasi yang kembali, aku tahu. Inggris keparat dan Belanda Penjilat telah membatalkan Traktat London berangka 1824. Negeriku dalam bahaya! Aku harus pulang kepertautan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Aceh Darussalam terancam oleh invasi Kumpeni Belanda. Traktat Sumatera telah memberi celah Belanda menguasai Sumatera paling Utara.

Apakabar Meureuhom Daya?
Apakabar Pedir?
Apakabar Tanah Gayo?
Apakabar Pasai?
Apakabar Tamiang?
Apakabar Meurebo Jaya?
Apakabar Teunom?
Apakabar Meureudu?
Apakabar Peureulak?
Apakabar Manggeng?
Apakabar Peusangan?
Apakabar Singkel?
Apakabar Samalanga?
Apakah masih menjadi bagian Federasi Aceh Darussalam?

Sudah lama aku pergi.

Masihkan Sultan Mansur Syah berkuasa? Masihkan Tuanku Nanta Setia hidup?
Hampir seluruh dunia kuarungi ternyata masih ada cintaku untuk Nusantara.

10 Februari Di tahun 1872, usiaku empat puluh tahun. Puncak seorang laki-laki, tanpa cinta. Bintang Hitam harus segera berlayar kembali menuju Bandar Aceh Darussalam. Cepat atau lambat, Belanda bangsa tak tahu balas budi! Yang kemerdekaannya dari Spanyol pertama kali diakui oleh Kesultanan kami itu akan menyerang, air susu dibalas dengan tuba. Bahkan William Van Orange akan malu akan polah anak cucunya. Pusara Duta Besar pertama Nusantara untuk Belanda, Tuanku Abdul Hamid di Holland sana akan mengutuki polah bejat bangsa pedagang pelit ini.

Saat ini Aceh Darussalam tak setangguh dulu seperti masih memegang monopoli lada. Ia keropos dan tinggal nama besar saja. Sekarat menunggu kematian. Para Ulee Balang telah melarung kuasa Sultan sejak era Sultanah Safiatuddin Segenap negeri yang kukunjungi telah terinjak-injak oleh kulit putih dan aku tahu hampir tak ada kemungkinan bagi Aceh bersegi tiga untuk menang melawan Barat yang lebih modern. Lebih rapi, lebih licik dan lebih terpelajar. Kami akan kalah dan itu akurasinya sembilan puluh sembilan persen kemungkinannya. Hanya Allah S.W.T yang mampu menolong, dan sudah sekian lama aku tak berdoa. Tanganku menengadah ke langit air mataku menitik untuk pertama kali sejak almarhum ayah meninggal

Aku memimpikan pelabuhan Ulee Lheu, karang-karangnya yang menggoda, hamparan pasir putih bersih. Tepat disana nanti para kelasi akan kubebastugaskan. Tak bisa sekarang kukatakan karena mereka pasti akan desersi. Aku merindukan menyemai bibit cabe ditepi Krueng Aceh. Tanganku sudah terlalu lembut untuk mencangkul kembali. Rindu telah memaksa mengingkari sumpahku untuk tidak menjadi petani lagi.

James Loudon pasti akan menyatakan maklumat perang, cepat atau lambat. Darul Kamal terancam menggelegakkan darahku yang telah kotor dengan harta jarahan. Bahkan perompak, lanun, bajak laut yang dicari-cari oleh Navy inggris, tentara Spanyol, armada Belanda, pelaut-pelaut Viking dan begundal-begundal tenggik Portugis ini mendamba syahid. Aku yang telah meninggalkan syariat sekian lama merindukan tanah leluhur. Aku yang tak pernah lagi menyentuh daratan selama sepuluh tahun masih berkeinginan menjejak bumi. Mengharapkan cinta dari Sang Pengasih dan Sang Pengampun untuk menebus segala dosa-dosaku yang telah menggunung ini. Sang durjana kan pulang. Wahai negeriku sambutlah putramu yang durhaka untuk membelamu sampai titik darah penghabisan, Ditempat ini, dikapal ini tiada pula cintaku tersisa.

“Tidak, cintaku akan selalu kubawa,
kemana saja jiwaku berlayar”.

Bersambung……….

Neususoen Uleh: Teungku Atjeh Darussalam (bioarabasta)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed