by

Menggungkap Fakta Tersembunyi Atjeh

MENANGIS SAMBIL TERTAWA DALAM MENGUNGKAP FAKTA TELAH TIBA

Dalam mencari fakta yang di sembunyikan perlu keulekan dan keikhlasan semua para pihak agar terungkapnya fakta yang sebenarnya, di sini kita menemui sedikit kendala karena semua berusaha untuk membenarkan diri, namun karena berangkat dari keiklasan maka Allah memudahkan perjalanan mengangkat fakta tersebut agar terangkat ke permukaan, Ketika kebenaran mulai bicara maka kebatilan sehabat apapun akan terkalahkan dan terbongkar dengan sendirinya, yang namanya imitasi walau di sepuh setiap waktu dan di jaga selalu oleh serdadu seiring waktu dia akan pudar dengan sendirinya.

Demikian pula halnya bicara perjanjian, setiap manusia mempunyai perjanjian yang di mulai dari dalam kandungan ibu, namun demikian halnya kita perlu mengulang terlebih dahulu cerita tentang perjanjian yang berkenaan dengan perjanjian dunia yang di mulai dari perjanjian Hudaibiah yang seiring waktu terhapus dengan hasil karya Allah setelah di makan oleh rayap perjanjian tersebut hilang dengan sendirinya, demikian pula mengenai dengan perjanjian antara Aceh dengan perpanjanagan tangan penjajah dalam hal ini di sebut Indonesia yaitu perjanjian yang di mulai dengan perjanjian Ikrar Lamteh, sayangnya perjanjian tersebut mental dengan sendirinya hingga terjadi pergolakan selanjutnya yang mengakibatkan korban rakyat Aceh lebih 30.000.( tiga puluh ribu ).
karena ingin menutupi kesalahan di masa lalu akhirnya mereka melakukan perjanjian baru yang di sebut dengan Mou.

Mou yang di bungkus rapi oleh para pihak yang punya kepentinganpun secara bertahap mulai di makan rayap karena ketidak adilan yang di lahirkan oleh nota kesepahaman tersebuk. Nota kesepahaman yang di lahirkan menjadi tidak sepaham karena di artikan multi tafsir, akibat nota tersebut dimulai dari pengingkaran dan kudeta terhadap kekuasaan oleh pihak yang ingin menguasai yang dasarnya memang bukan penguasa yang layak untuk jadi pemimpin akhirnya harus melewati hal tersebut dengan penuh skenario yang skenario tersebut sebenarnya sudah terbaca dari awal, namun karena gaya militerisme yang di jalankan untuk kepentingan kekuasaan akhirnya orang yang merasa perlu memperbaiki harus mundur selangkah mencari posisi aman agar terungkap fakta yang sebenarnya di kemudian hari, demi kemaslahatan ummat yang harus lebih di kedepankan, karena hal yang harus di ungkapkan ke khalayak bukanlah hal mudah, akhirnya banyak waktu yang terbuang untuk membuktikan bahwa hal tersebut sangat merugikan.

Kesepakatan yang di ambil di masa lalu akhirnya mulai di ingkari satu persatu dan mulailah tahap baru tersebut terungkap dengan sendirinya oleh ketidak jujuran para pihak yang mengambil kebijakan.
Rayap yang tidak sabar lagi dengan perjanjian yang multi tafsir tersebut akhirnya ikut membantu untuk mengunyah satu persatu perjanjian tersebut yang bukan harapan bangsa Aceh yang sebenarnya. Saat rayab mulai membantu terbayang oleh kita bahwa hal yang sama akan terulang seperti perjanjian Hudaibiah di masa Rasulullah dan demikian pula halnya dengan Ikrar Lamteh dan hal itupun mulai terlihat saat ini di epidode MOU.

Allah selalu memberi hambanya kesempatan untuk kembali berkarya untuk mencari jati diri Bangsa agar kembali pada fitrahnya yang asli, di sini kita akan melihat bahwa setiap kebenaran akan menuai kejayaan dan kezaliman akan menuai bencana dan mereka akan menyesalinya seiring waktu yang di beri Allah untuk kita agar bisa merubah Diri, Bangsa dan Negara. Mungkin inilah yang di sebut dengan keadilan, setiap yang hidup di dunia yang mau mencari keadilan yang hak akan Allah beri kesempatan pada mereka untuk bangkit dan berjaya.

Sebaliknya mereka yang ingin mencari keadilan dalam hukum yang tidak di ridhai Allah juga akan di beri namun akan menuai hasil yang membawanya celaka dunia akhirat.Kembali kita kepada persoalan yang terjadi di masa lalu ketika Gurèë Rahman Samudera Pasai bersama Malek mahmud mengambil kebijakan untuk menamai TNA sebagai militer yang akan melawan kebatilan serdadu perpanjangan tangan penjajah.Kesepakatan tersebut di ambil dan kemudian setelahnya di khianati arah tujunya oleh para petinggi yang mengambil kebijakan, membawa bangsa ini ke arah yang salah dari arah tuju awal, akibat dari kesalahan tersebut dengan sangat terpaksa kita harus memulai dari awal dan ini mulai berjalan , Alhamdulillah dengan rahmat Allah terbentuklah dengan secara alamiah energi baru dari pihak yang ikhlas untuk mengajak bangsa ini kembali kepada jati diri kebangsaan yang asli.

Dengan terbentuknya kebenaran, lahirlah Teuntra Aceh Merdeka (TAM) yang mengembalikan marwah bangsa ini untuk mengambil kembali haknya yang seharusnya di arahkan ke arah kekuasaan memerdekaan yang di pimpin oleh pemimpin yang berpihak kepada bangsa bukan seperti selama ini yang berpihak kepada musuh. Di satu sisi mungkin kita sangat menyesali namun di sisi lain dengan terjadi proses pengkhianatan kita akan sangat bersyukur karena kita selalu di beri kesempatan untuk berjihad melawan mereka yang tidak suka tegaknya hukum Allah. Kesempatan yang Allah berikan kepada kita bangsa Aceh membuktikan sayangnya Allah kepada kita bangsa Aceh agar kita mudah mendapatkan tropi surga dengan cara berjihad.

Hal ini bukanlah hal yang mudah di dapatkan oleh setiap bangsa yang ada di dunia, sementara karena Allah sayang kepada kita maka Allah selalu menghidangkan kesempatan kepada kita bangsa Aceh untuk bisa berjihad di mulai dari masa kependudukan Belanda, Jepang dan perpanjangan tangan penjajah. Kesempatan yang Allah berikan kali ini semoga menjadi kesempatan yang membawa Bangsa ini ke arah yang lebih baik dengan harapan kepada mereka yang salah langkah kembali pada dasarnya dan yang masih setia terus berusaha bersama sama sekuat tenaga hingga terhidangnya Aceh Merdeka dalam rahmat yang Maha kuasa
HINGGA LAHIR SENYUM KEBAHAGIAAN TAMPA TANGISAN,YANG MEMBAWA KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT, AMIN YA ALLAH

Neususoen Uleh : Abu Bakar Al Asyi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed