ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
AgamaDalam NegeriOpiniPers RilisReligiusUncategorized

Makna Jihad, Hukum dan keutamaannya.

Makna Jihad, Hukumnya dan Keutamaannya.

Jihad Fi Sabilillah: adalah penyerahan segenap kekuatan dan kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir demi mencari keridlaan Allah untuk meninggikan kalimat Allah ‘Azza Wa Jalla.

* Mujahid Fi Sabilillah:

Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu berkata:

جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم رجل فقال: الرَّجُلُ يُـقَاتِلُ لِلْـمَغْنَمِ، وَالرَّجُلُ يُـقَاتِلُ لِلذِّكْرِ، وَالرَّجُلُ يُـقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُـهُ، فَمَنْ فِي سَبِيلِ الله ؟ قَالَ : «مَنْ قَاتَلَ لِتَـكُونَ كَلِـمَةُ الله هِيَ العُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ٬». متفق عليه

“Datang seorang pria kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus dia berkata: “Seorang pria berperang untuk mendapatkan ghanimah, dan seorang pria berperang supaya dikenal, dan seorang pria berperang supaya dilihat posisinya, maka siapa yang dijalan Allah?” Beliau menjawab: Baransiapa berperang supaya kalimat Allah-lah yang paling tinggi maka dia itu fi sabilillah. (Muttafaq alaih).

* Hikmah pensyariatan jihad:

Allah telah mensyariatkan jihad fi sabilillah supaya kalimat Allah-lah yang paling tinggi, dan supaya ketundukan itu seluruhnya hanya kepada Allah, juga untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, menyebarkan Islam, menegakkan keadilan, mencegah kedzaliman dan kerusakan, melindungi kaum muslimin dan menghadang makar musuh serta membungkam mereka.

Allah telah mensyariatkan jihad sebagai ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya; agar nampak jelas orang yang jujur dari orang yang bohong dan orang mumin dari orang munafiq, dan agar diketahui siapa orang yang berjihad dan orang yang sabar. Memerangi orang-orang kafir itu bukan untuk memaksa mereka masuk Islam, namun untuk memaksa mereka tunduk kepada hukum-hukum Islam sehingga ketundukan itu seluruhnya kepada Allah.

– Dan Jihad Fi Sabilillah ini adalah satu pintu dari pintu-pintu kebaikan, dengannya Allah melenyapkan perasaan bingung dan galau dan dengannya diraih tingkatan-tingkatan tertinggi di surga.

– Tujuan dari qital (perang) di dalam Islam adalah melenyapkan kekufuran dan syirik, mengeluarkan manusia dari kegelapan kekufuran, syirik dan kejahilan kepada cahaya iman dan ilmu, menghentikan langkah orang-orang yang aniaya, melenyapkan berbagai fitnah, meninggikan kalimat Allah, menyampaikan dienullah, serta menyingkirkan orang yang menghalangi dari penyampaian dan penyebarannya. Bila hal itu terealisasi tanpa qital maka tidak dibutuhkan kepada qital, dan memerangi orang yang belum sampai dakwah kepadanya tidak dilakukan kecuali setelah diajak kepada Islam, kemudian bila mereka menolak maka imam memerintahkan mereka untuk membayar jizyah, kemudian bila mereka menolak maka ia memohon pertolongan kepada Allah dan memerangi mereka.

– Bila sebelumnya mereka itu sudah terkena dakwah maka boleh memerangi mereka secara langsung, karena Allah itu telah menciptakan Bani Adam untuk ibadah kepada-Nya, maka tidak boleh membunuh seorangpun dari mereka kecuali orang yang membangkang dan bersikukuh di atas kekafiran, atau murtad atau berbuat dzalim atau aniaya atau menghalangi manusia dari masuk Islam atau menyakiti kaum muslimin. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memerangi satu kaum pun melainkan beliau telah mengajak mereka kepada Islam.

* Hukum Jihad:

Jihad Fi Sabilillah adalah fardlu kifayah, bila dilakukan oleh orang-orang yang mencukupi maka kewajiban gugur dari yang lain.

* Jihad menjadi wajib atas setiap orang yang mampu di dalam keadaan-keadaan berikut ini:

– Bila dia sudah hadir di barisan peperangan.

– Bila imam memobilisasi seluruh manusia untuk keluar perang.

– Bila musuh sudah mengepung negerinya.

– Bila dirinya secara pribadi dibutuhkan dalam peperangan, seperti: dokter, pilot dan yang serupa itu.

Allah taala berfirman:

ٱﻧﻔِﺮُﻭا۟ ﺧِﻔَﺎﻓًﺎ ﻭَﺛِﻘَﺎﻻً ﻭَﺟَٰﻬِﺪُﻭا۟ ﺑِﺄَﻣْﻮَٰﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ٱﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَّﻜُﻢْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. At Taubah [9]: 41)

– Jihad Fi Sabilillah itu: Kadang wajib dengan jiwa dan harta pada diri orang yang mampu secara harta dan fisik, dan kadang wajib dengan harta tanpa jiwa pada diri orang yang tidak mampu berjihad dengan fisiknya, dan kadang wajib dengan jiwa tanpa harta pada diri orang yang tidak memiliki harta.

Allah Taala berfirman:

ﻭَﻗَٰﺘِﻠُﻮﻫُﻢْ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻻَ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ٱﻟﺪِّﻳﻦُ ﻟِﻠَّﻪِ ۖ ﻓَﺈِﻥِ ٱﻧﺘَﻬَﻮْا۟ ﻓَﻼَ ﻋُﺪْﻭَٰﻥَ ﺇِﻻَّ ﻋَﻠَﻰ ٱﻟﻈَّٰﻠِﻤِﻴﻦ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah [2]: 193)

Dari Anas radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«جَاهِدُوا المُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ». أخرجه أبو داود والنسائي

“Jihadilah orang-orang musyrik itu dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian”. (HR. Abu Dawud dan An Nasai)

* Keutamaan jihad di jalan Allah:

Allah taala berfirman:

ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻭَﻫَﺎﺟَﺮُﻭا۟ ﻭَﺟَٰﻬَﺪُﻭا۟ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ٱﻟﻠَّﻪِ ﺑِﺄَﻣْﻮَٰﻟِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻋْﻈَﻢُ ﺩَﺭَﺟَﺔً ﻋِﻨﺪَ ٱﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻭَﺃُﻭ۟ﻟَٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ٱﻟْﻔَﺎٓﺋِﺰُﻭﻥ. ﻳُﺒَﺸِّﺮُﻫُﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺔٍ ﻣِّﻨْﻪُ ﻭَﺭِﺿْﻮَٰﻥٍ ﻭَﺟَﻨَّٰﺖٍ ﻟَّﻬُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻧَﻌِﻴﻢٌ ﻣُّﻘِﻴﻢ. ﺧَٰﻠِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎٓ ﺃَﺑَﺪًا ۚ ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺃَﺟْﺮٌ ﻋَﻈِﻴﻢ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At Taubah [9]: 20-22)

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «مَثَلُ المُـجَاهِدِ فِي سَبِيلِ الله -وَالله أَعْلَـمُ بِمَنْ يُـجَاهِدُ فِي سَبِيلِـهِ- كَمَثَلِ الصَّائِمِ القَائِمِ، وَتَوَكَّلَ الله لِلْـمُـجَاهِدِ فِي سَبِيلِـهِ بِأَنْ يَتَوَفَّاهُ أَنْ يُدْخِلَـهُ الجَنَّةَ، أَوْ يَرْجِعَهُ سَالِـماً مَعَ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ». متفق عليه

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Perumpamaan mujahid fi sabilillah –dan Allah lebih mengetahui perihal orang yang berjihad di jalan-Nya– adalah bagaikan orang yang shaum lagi shalat terus. Allah menjamin bagi orang yang berjihad di jalan-Nya untuk memasukkannya ke dalam surga bila Dia mewafatkannya atau mengembalikannya pulang dengan selamat bersama pahala atau ghanimah. (Muttafaq alaih)

Dari Abdullah Ibnu Masud radliyallahu anhu berkata:

عنْ عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم: ايّ الأَعمال أفضل؟ قال : الصلاة على وقتها, قلت: ثم أيّ؟ قال: برّالوالدين, قلت ثم أيّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله…

Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab: Shalat pada waktunya Saya berkata: “Terus apa?” Beliau menjawab: Terus berbakti kepada kedua orang tua, Saya berkata: “Terus apa?” Beliau menjawab: Jihad di jalan Allah. (Muttafaq alaih).

– Keutamaan orang yang menyiapkan orang yang berperang atau menggantikannya dalam mengurusi keluarganya dengan baik:

Dari Zaid Ibnu Khalid radliyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:

«مَنْ جَهَّزَ غَازِياً فِي سَبِيلِ الله فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِياً فِي سَبِيلِ الله بِخَيرٍ فَقَدْ غَزَا». متفق عليه

“Barangsiapa menyiapkan orang yang berperang di jalan Allah maka dia telah berperang, dan barangsiapa menggantikan orang yang berperang di jalan Allah (dalam mengurusi keluarganya); dengan baik maka dia telah berperang. (Muttafaq alaihi).

* Hukuman orang yang meninggalkan jihad di jalan Allah:

Dari Abu Umamah radliyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:

«مَنْ لَـمْ يَـغْزُ، أَوْ يُـجَهِّزْ غَازِياً، أَوْ يَـخْلُفْ غَازِياً فِي أَهْلِـهِ بِخَيْرٍ، أَصَابَـهُ الله بِقَارِعَةٍ قَبْلَ يَوْمِ القِيَامَةِ». أخرجه أبو داود وابن ماجه

“Barangsiapa tidak berperang atau tidak menyiapkan orang yang berperang atau tidak menggantikan posisi orang yang berperang di tengah keluarganya dengan baik, maka Allah akan menimpakan bencana kepadanya sebelum hari kiamat. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Syarat-syarat kewajiban jihad fi sabilillah:
1. Islam.
2. berakal.
3. baligh.
4. pria.
5.selamat dari dlarar (gangguan) seperti sakit, buta dan pincang.
6. ada dana.

– Orang muslim tidak bisa pergi berjihad yang sunnah kecuali dengan izin kedua orang tuanya yang muslim, karena jihad adalah fardlu kifayah kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu, sedangkan birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah fardlu ain dalam semua keadaan. Adapun bila jihad menjadi wajib (atasnya) maka dia berjihad tanpa perlu izin keduanya.

– Setiap hal yang sunnah yang bermanfaat bagi seseorang dan tidak memadlaratkan kedua orang tuannya di dalamnya maka tidak perlu izin keduanya seperti qiyamullail, shaum sunnah dan yang serupa itu, namun bila ada dlarar (gangguan) di dalamnya kepada kedua orang tua atau salah satunya maka keduanya boleh melarangnya dan dia wajib menghentikan diri; karena taat kepada kedua orang tua adalah wajib sedangkan ibadah sunnah adalah tidak wajib.

– Ribath: adalah menjaga celah terbuka antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir.

– Kaum muslimin wajib menjaga perbatasan mereka dari orang-orang kafir, baik dengan perjanjian dan jaminan keamanan maupun dengan senjata dan personel, sesuai tuntutan kondisi.

Keutamaan ribath fi sabilillah:
Dari Sahl Ibnu Saad radliyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:

« رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ الله ٬ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْـهَا…». أخرجه البخاري

“Ribath satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya….” (HR. Al-Bukhari).

Keutamaan ghadwah dan rauhah fi sabilillah:
Dari Anas Ibnu Malik radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

« لَغَزْوَةٌ فِي سَبِيلِ الله أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا». متفق عليه

“Sungguh ghadwah di Allah atau rauhah adalah lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. (Muttafaq alaih).

Penulis: Abu Maulana Media Atjeh Sumatra

Related posts
Uncategorized

Aceh Bukan Indonesia

Rumah Kami Bukan Indonesia… Banyak Netizen Bertanya Terutama Netizen Yang Berada Di Luar Aceh. Seandainya Aceh Lepas ( Merdeka ) Dari Tangan…
Uncategorized

15 Agustus Hari Kemalangan Aceh, Bukan Hari Damai Aceh

“REFLEKSI 15 TAHUN MoU HELSINKI ( 15-8-2005 – 15-8-2020 ) Semua Rakyat Acheh hari ini menjadi Hakim / juri untuk menilai dan…
AgamaPejuang Aceh

PERJUANGAN ACEH, PERJUANGAN ISLAM.

“Perjuangan Aceh, Adalah perjuangan Islam” Ruh Aceh Adalah Islam, Ruh Islam Adalah Amalan, Ruh Amalan Adalah Ilmu Islam.. Ilmu adalah Nur –…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *