ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Uncategorized

Kesetiaan dan Pengkhianatan

SIMEUNYEH, KONFLIK, ATJEH MERDEKA DAN PENGKHIANATAN SEBAHAGIAN MANTAN GAM. 1

Kondisi yang mencekam membuat sebahagian para pejuang kemerdekaan, Atjeh Merdeka harus mengasingkan diri ke negeri jiran Malaysia.
Ada yang tetap bertahan di negeri ada yang mengasingkan diri, ada yang tewas ada yang syahid ada yang mati dan ada yang berkhianat bergabung dengan serdadunya perpanjangan tangan penjajah.
Keadaan membuat sebahagian dari para pejuang untuk tetap bertahan di negeri karen  susahnya untuk mengasingkan diri, hingga harus tetap bertahan demi meujudkan cita _ cita yang di dambakan oleh setiap bangsa Atjeh.
Mereka yang bertahan terus melakukan perlawanan terhadap serdadunya para perpanjangan tangan penjajah. Sementara yang mengasingkan diri bukan bermakna takut melakukan perlawanan, namun lebih kepada melakukan persiapan untuk mengatur siasat perlawanan tahap selanjutnya di kemudian hari.
Sayangnya perjuangan yang mengorbankan lebih 30.000. (Tiga puluh ribu ) bangsa yan tidak berdosa berakhir dengan penyerahan diri tanpa menghasilkan tujuan dasar.
Bila kita menelusiri kisah perjuangan baik di dalam maupun di luar  dan kemudian mengkaitkan dengan hasil yang di hasilkan sekarang sungguh menjadi kesimpulan yang amat merugikan, setelah mengorbanka 30.000. (Tiga puluh ribu) bangsa yang tidak berdosa di tambah 30. 000. (Tiga puluh ribu ) janda dan lebih lagi dengan lahirnya yatim konflik yang seharusnya mereka tidak wajar menjdi yatim, kalau ini yang di hasilkan.
Kalau hanya bertujuan ingin menguasai dan hanya menjadi sebagai penguasa perpanjangan tangan penjajah mengapa harus dengan jalan perang ?. Inilah yang menjadi penyesalan dan pertanyaan hingga saat ini.
Saat sebahagian dari para kombatan menjadi tahanan Simeunyeh misalnya kita sangat bangga ketika mendengar cerita mereka yang dalam penjara di siksa, di tembak sampai mati, ada yang sampai harus di potong kakinya karena busuk setelah di siksa oleh aparat hukum kerajaan malaysia, sejauh penyiksaan itu mereka masih tidak mau di satukan dengan warga indonesia lainnya dan memberontak tidak mau di katakan orang indonesia, herannya setelah stunami meluluh lantakkan sebahagian pesisir Atjeh mereka yang seharusnya bertahan malah kecut dengan diplomasi para penjajah dan malah mengalah dan takluk di bawah kaki tangannya perpanjangan tangan penjajah dan kemudia mereka malah menjadi bagian dari perpanjangan tangan penjajah.
Inilah hal yang paling membahagiakan bagi pihak penjajah, berhasil menaklukkan dengan mudah para pejuang dan kesedihan yang sangat amat mendalam bagi bangsa yang sudah sekian lama hidup menderita dan berkorban membantu mereka lalu hanya dalam waktu singkat menyerah tanpa syarat lalu menjadi bagian dari penjajah.
Kita masih ingat seperti Amni misalnya yang salah seorang tahanan Siemeunyeh yang tertembak kakinya yang di bawa pulang dalam keadaan tangan terikat dan menangis meraung kesakitan, di dalam Truk Reo di hantar ke poklang dan saat meminta air pada salah seorang pengawal malah di tendang di mukanya, lantas meraung kesakitan, setelahnya mereka di hantar pulang yang sebahagian di bawa ke rancong, sebahagian di bawa ke rumah sakit karena sakit dan saya sangat yakin mereka saat itu tau siapa yang menyiksa dan tersiksa.
Anehnya sejauh dan semenderita itu begitu MOU di tanda tangani lalu masih berfikir untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Utara yang walau akhirnya gagal karena terjegal dengan aturan.
Demikian pula yang lainnya, ada yang di siksa hingga meninggal dan di tembak dan itu malah di depan mereka, namun dengan mudahnya mereka menjual diri dan bangsanya untuk penjajah. Kalau mental seperti ini masih berusaha untuk jadi penguasa saya sangat menyesali kepada semua mereka yang tidak sadar bahwa sudah menyerah dan melanggar akan sumpah setianya kepada Bangsa , Agama dan Negara.
Setelahnya mereka di kembalikan ke daerah masing _ masing dan di tempatkan di koramil daerah masing masing dan kemudian di beri tempat untuk berusaha dan wajib lapor saat itu, yang sebahagian melarikan diri ada yang saat itu sudah menyerah secara total dan ada yang menjadi mata mata musuh dan setelahnya pergolakanpun terus terjadi hingga menjadi kebanggaan bangsa kala itu.
Ketika orang yang kita banggakan hari ini menjadi pecundang lalu malah mengancam apa itu di pihak eks kombatan atau sebaliknya eks musuh bebuyutan yang hari ini menjadi sahabat mereka para pengkhianat sumpah, masih layakkah kita harus berpihak pada mereka ?
Pertanyaan ini akan terus menjadi pertanyaan bagi bangsa yang mulia ini yang sampai saat ini ditunggu jawabannya yang tak pasti siapa yang mampu menjawab persoalan ini. Yang jelas kita mungkin masih memisahkan antara pecundang dan pahlawan, yang dulunya mereka di anggab sebagai pecundang terbukti hari ini menjadi pahlawan dan yang dulunya di anggap pejuang ternyata pecundang, walau ini bukan satu kesimpulan akhir namun saya yakin bangsa Atjeh bukanlah bangsa yang bisa di tipu dengan mudah, yang terpenting hari ini kita sudah tau siapa lawan dan siapa kawan, siapa pecundang siapa pahlawan, siapa yang berkhianat dan siapa yang di khianati oleh para pengkhianat sumpah Atjeh merdehka.
Hari terus berlalu Tahun terus berganti, duka bangsa ini takkan pernah bisa terobati bila masih dalam Nkri,  hingga bila ada kata terindah di ucapkan di depan bangsa Atjeh tentu jawaban dari bangsa Atjeh kami bosan dengan tipu daya kalian para penjajah, perpanjangan tangan penjajah dan para meusadeu cilet darah…………..

. walau demikian kita sangat yakin bila kebenaran akan melahirkan kebenaran sebaliknya juga demikian, kondisi ini menghasilkan kekecewaan bagi bangsa yang menantikan harapan besar yaitu kemerdekaan.
Walau demikian kita masih mengharap semoga sisa dari para pejuang yang masih bermukim di luar dan yang sudah pulang kedalam negeri semoga jangan terulang seperti yang lalu karena bangsa sudah semogat bosan dengan tingkah polah para pengkhianat sumpah yang kini berkuasa sebagai diktator di negeri yang tidak ikhlas kehadiran para pengkhianat sumpah.

Bersambung…………

TGK. Syeh Meuhidang. S.mh

.

Related posts
Uncategorized

Aceh Bukan Indonesia

Rumah Kami Bukan Indonesia… Banyak Netizen Bertanya Terutama Netizen Yang Berada Di Luar Aceh. Seandainya Aceh Lepas ( Merdeka ) Dari Tangan…
Uncategorized

15 Agustus Hari Kemalangan Aceh, Bukan Hari Damai Aceh

“REFLEKSI 15 TAHUN MoU HELSINKI ( 15-8-2005 – 15-8-2020 ) Semua Rakyat Acheh hari ini menjadi Hakim / juri untuk menilai dan…
Uncategorized

DJAWABAN ULEÈ BIRO PENERANGAN TNAD WILAYAH ATJÉH RAJÈUK TERHADAP YANG MENGAKU DIRI KETURUNAN RAJA ACEH DARUSSALAM

Trok seu- eue dari Fb ” Adhari S ” Contoh2 sifeut kaom durhaka keu bangsa dan nanggroe, ; Kelompok Aceh Sumatra, Publoe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *