ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Uncategorized

KAUM KOMUNIS ACEH, ASAL DARI SAMALANGA TELAH ADA SEJAK TAHUN 1926 M

” KAUM KOMUNIS ACEH DARI SAMALANGA “

Pada tahun 1926 kader kader muda komunis menyusun rencana pemberontakan di sabang,rencana mareka bocor ke fihak Belanda dan mareka ditangkap sebagian melarikan diri ke Minangkabau.kemudian pada tahun 1927 para pelarian dari sabang tersebut terlibat dalam pemberontakan kaum komunis di silungkang

Rencana pemberontakan komunis disabang telah menyingkap peranan tokoh tokoh komunis dari sumatra barat dalam penyebaran komunisme si Aceh.orang orang minang kemudian di usir oleh Belanda dari sabang

Walaupun belanda sudah berhasil menghancur kaum kan komunis disabang.kolonial Belanda tidak mampu menghadang penyebaran faham komunis ke Aceh daratan

Di kota kecil samalangan pada tahun 1927 meletus sebuah pemberontakan kecil kaum komunis yang di pimpin oleh Tgk Abdul hamid,pemberontakan komunis ini dengan mudah bisa dipadam kan krn pemberontakan komunis iru tidak dipersiapkan

RIWAYAT SINGKAT ACEH BANGUN SESUDAH TIDUR,
BEBERAPA PULUH TAHUN YANG LALU

Oleh Amelz

Pada tahun 1927 Partai Komunis Indonesia (P.K.I.) sudah berkembang di Samalanga, oleh sebab itu banyak pemuda-pemuda Samalanga masuk angota P.K.I. antara lain termasuk seorang putra dari TGK.HAJI MALEM seorang Ulama Besar di Tanjongan Barat bernama Tgk.Abdoel Hamid.Karena Tgk.Abdoel Hamid sudah masuk P.K.I. maka ia selalu di intip – intip oleh Pemerintahan Belanda untuk ditangkap.

Pada tahun itu (1927) T.Tjhik Moehammad Ali Basjah Zelbestuurder Samalanga berhenti dari jabatannya diganti oleh puteranya T.Moehammad menjadi Ulee Balang Samalanga. T.Tjhik Moehammad Ali Basjah bermaksud untuk pergi menunaikan Rukun Islam ke lima ke Tanah Suci Makkah, bersama dengan 40 orang pengiringnya.
Oleh sebab itu maka T.Tjhik Moehammad Ali Basjah mencharter kapal K.P.M. (Koning kelijke Pakkat Vaar Maataschappij ) dan sudah berlabuh di Kuala Samalanga.

T.Tjhik Moehammad Ali Basjah mengetahui bahwa Tgk.Abdoel Hamid mau di tangkap oleh Pemerintah Belanda karena masuk P.K.I. maka dipanggilnya Tgk.Abdoel Hamid. Sesudah Tgk.Abdoel Hamid tiba, T.Tjhik Moehammad Ali Basjah mengatakan, bahwa Tengku akan ditangkap oleh Pemerintah Belanda karena Tengku sudah menjadi anggota P.K.I.Untuk menghindari supaya Tengku tidak ditangkap oleh Pemerintah Belanda ada lebih baik Tengku berangkat dengan saya ke Makkah untuk menunaikan Rukun Islam yang Kelima, yang disertai juga oleh 40 orang yang sudah siap-siap untuk berangkat.

Kapal K.P.M. (Koningkelijke Pakkat Vaar Maataschappij) sudah saya charter dan sedang berlabuh ke Kuala Samalanga.Kalau Tengku setuju harus bersiap-siap dari sekarang karena besok pagi kita berangkat. Anjuran T.Tjhik Moehammad Ali Basjah diterima baik oleh Tgk.Abdoel Hamid dan besoknya terus berangkat bersama dengan rombongan 40 orang itu.

Sesudah menunaikan Rukun Islam ke Lima, Tgk.Abdoel Hamid tidak pulang bersama T.Tjhik Moehammad Ali Basjah, hanya tinggal di Makkah menjadi penampung jama’ah Haji yang baru datang dari Aceh.Dengan sebab itu ia bergelar Tgk.Sjech Abdoel Hamid. Selama di Makkah Tgk.Abdoel Hamid memperhatikan perkembangan – perkembangan dan kemajuan Ulama-ulama di Makkah.

Berhubung dengan itu ia mengirim surat ke Aceh dialamatkan kepada Tgk.Hadji Abdoellah Oedjong Rimba, meminta supaya Ulama-ulama di Aceh mengubah cara bergerak untuk mencapai kemajuan, tidak lagi sebagai keadaan sekarang.

Sesudah surat diterima dan diperhatikan oleh T.Hadji Abdoellah Oedjong Rimba dibawa ke Garot untuk diperlihatkan kepada Tgk.Yan Garot yaitu Tgk.Moehammad Amin seorang Ulama tua yang berpengaruh didaerah Pidie.Tgk.Yan memperhatikan isi dan maksud surat tersebut tak ada sambutanya, karena bersamaan dengan rencana Komunist.Karena surat itu tak ada sambutan dari Tgk.Yan Garot, Maka Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh meminta surat itu dari Tgk.H.Abdoellah Oedjong Rimba.

Sesudah diperhatikan dan ditelaah, Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh bermaksud akan membawa surat itu untuk diperlihatkan kepada Tgk.Hoesin Poelo Pandjoe, seorang Ulama yang berpengaruh didaerah Poelo Pandjoe.Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh mengirim utusan untuk menjumpai Tgk.Hoesin Poelo Pandjoe sambil mengirim pesan, bahwa beliau akan berbuka puasa di Masjid Poelo Pandjou, dengan sebab itu beliau miminta supaya segala Ulama-ulama didaerah Poelo Panjdjoe turut berbuka puasa di Masjid Poelo Pandjoe karena pada hari tersebut adalah tanggal 1 bulan Ramadhan tahun itu.

Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh berangkat ke Poelo Pandjoe berbuka puasa dengan Ulama-ulama yang hadir.Sesudah shalat tarawih, surat yang dikirim oleh Tgk.Abdoel Hamid di Mekkah diperlihatkan kepada Ulama-ulama tersebut.Sesudah dibaca dan diperhatikan isi dan maksud surat tersebut, Ulama yang hadir menerima baik dan menjujung gagasan yang dikemukakan oleh Tgk.Abdoel Hamid.

Besoknya surat itu dibawa kembali oleh Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh diserahkan kepada Tgk.Yan Garot, sambil memberi penjelasan-penjelasan dari Ulama-Ulama di Poelo Pandjoe sangat setuju sebagai yang dimaksud dan yang dikehendaki oleh Tgk.Abdoel Hamid.

Ayah Hamid / ABDUL HAMID SAMALANGA Juga Tokoh Kumunih

  1. ABDUL HAMID SAMALANGA

Silsilah Keluarga

Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga di lahirkan dalam lingkungan ‘Ulama-‘ulama yang memimpin Dayang tanjungan Samalanga. Putra kedua dari Teungku Hji Idris ini di lahirkan di jeunieb pada tahun 1902. Ayahnya termasuk di antara ‘Ulama-‘ulama yang di tugaskan untuk melapor kepada kekuasaan pendudukan Belanda.

Setelah sebagin pesisir Aceh di kuasi tentara kolonial Belanda, pucuk pimpinan perang gerilya di bawah komando ‘Ulama-“ulama Tiro menetapkan kebijakan baru. Melalui suatu musyawarah dengan para pemimpin perang gerilya dari seluruh tanah Aceh di putuskan untuk membuat kebijakan baru, yaitu bahwa medan perang di bagi menjadi dua:

  1. Perang gerilya fisik yang akan di lanjutkan di rimba raya, lembah-lembah, lereng-lereng bukit, bahkan juga di kampung-kampung dan di kota-kota.
  2. Jihad akbar yang bertujuan memberantas kebodohan, kejahilan dan ke maksiatan.

Sejumlah ‘Ulama di tugaskan untuk melapor kepada kekuasaan Belanda di daerah-daerah pedudukan dengan ketentuan bahwa mereka harus menuntun rakyat di daerah pendudukan, terutama anak-anak dengan menghidupkan kebali pusat-pusat pendidikan yang bernama Dayah yang selama pecah perang telah terbengkalai. Salah satu yang di tugaskan adalah Teungku Haji Idris.

Latar Belakang Pendidikan

Teungku Syekh Abdul Hamid Samalangandi kenal dengan sebutan “Ayah Hamid”. Pendidikan pertama di peroleh dari ayah kandungnya yang merupakan pemimpin Dayah Tanungan Samalanga. Selain belajar pada Dayah itu, Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga juga menimba ilmu di Governement Inlandsche School Samalangahingga tamat. Pendidikan di lanjukan dengan masuk ke sekolah guru di Bireun yang bernama Leergang (sama dengan sekolah guru bantu pada zaman Republik Indonesia).

Selesai studi di Leergang Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga di angkat menjadi guru Volkschool (sekolah dasar tiga thun) sebagai pegawai Negri, dan pada tahun 1921 menjadi kepala sekolah di Blang Me Aceh Utara. Selain mejadi guru hatinya selalu gusar dan muncul ketidak puasan. Hal ini karena dalam pandangannya menjadi guru di angkat oleh Belanda adalah samadengan mengabdikan diri kepada penjajah.

Kiprahnya Dalam Dunia Pendidikan, Politik dan Organisasi

Perhatian Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga pada dunia pedidikan sangat tinggi, beliau mempelopoeri berdirinya Madrasah Diniyah di Tanjung Samalanga yang selanjutnya ia memimpin sendiri. Madrasah Diniyah yang di beri nama Maskinah itu terdiri dari dua bagian, yaitu untuk putra dan untuk putri pada tahun 1933 Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga mempelopori pembangunan Perguruan Taman Siswa Jeunib sekaligus menjadi pemipinnya pada tahun-tahun pertama pendriannya. Pada tahun 1937 kembali beliau mempelopori pendirian Madrasah Diniyah di Tufa Jeunib. Sebagai pendidik yang bercita-cita dan mempunyai arah yang jelas Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga telah banyak mencetak kader-kader bangsa yang kelak menjadi pembesar-pembesar dan pemimpin di Aceh.

Kiprahnya di dunia organisasi juga sangat penting untuk di perhitungkan, karena dari sinilah Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga memasuki dunia politik untuk berjuang demi kemerdekaan bangsa. Syarikat Islam yang telah di dirikan di Aceh pada tahun 1916 oleh para ‘Ulma dan Uleebalang yang progresif telah mendorong Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga untuk terlibat di dalamnya. Pada usia yang sangat muda (18 tahun) Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga mendaftarkan diri menjadi anggota Syarikat Islam cabang Samalanga. Sikap dan semangat yang menyala-nyala dalam memperjuangkan kemerdekaan membawa dalam waktu relatif singkat menjadi pimpinan Syarikat Islam di Aceh gerak-geriknya yang di anggap dapat membahayakan pemerintahan Kolonil Belanda mengakibatkan ancaman penangkapan karena di anggap membahayakkan kedudukan Kolonil Belanda di Aceh. Akan tetapi nasib berkata lain, Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga luput dari penangkapan oleh Belanda, beliau berhasil melarikan diri dari Aceh pada tahun 1926.

Dalam pelariannya inilah Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga sampai ke Mekkah dan bermukin di sana. Di Mekkah beliau menyempatkan diri memperdalam ilmu agama termasuk pemikiran terhadap pembaharuan Sistem pendidikan Islam. Beliau juga tidak begitu saja memutuskan hubungan dengan Aceh, karena melalui surat-suratnya beliau tetap mengorbankan semangat untuk menentang belanda kepada para ‘Ulama dan rekan-rekannya yang berada di Aceh. Ummul Qura adalah salah satu surat kabar yang beliau sampaikan ke Aceh untuk menanamkan semangat perjuangan para pejuang-pejuang Aceh.

Pada tahu 1932 atas usul dan jaminan Uleebalang Samalanga Teungku Ali Basyah, Teungku Abdul Hamid Samalanga kembali ke Aceh dan berkiprah kembali di dunia politik. Pada tahun 1939 beliau ikut mempelopori pendirian Organisasi Persatuan ‘Ulama Seluruh Aceh (PUSA) bersama Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, Teungku AbdurrahmanMeunasah Meucap, Teungku Hasballah Indrapuri, Teungku Abdul Wahab Seulimum dan ‘Ulama-‘ulama lainnya.

Dalam kongres pertama PUSA yang di adakan di Sigli 1940 Teungku Syekh Abdul Hamid Samalangan di pilihmenjadi seorang komisaris pengurus besar PUSA. Setelah pecah perang Asia Timur Raya yang di timbulkan Jepang pimpinan PUSA memutuskan akan mempergunakan peluang baik itu untuk memberontak kembali terhadap Kekuasaan Belanda sekalipun sementara harus bekerjasama dengan Jepang. Untuk keperluan ini Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga di utus pergi ke pulai Pinang, di sana beliau melakukan kontak dengan pembesar-pembesar militer Jepang, di mana beliau menyatakan bahwa rakyat Aceh di bawah pimpinan PUSA akan memberontak terhadap kekuasaan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, Teungku Syekh Abdul Hamid Samalangaaktif bergerak dalam organisasi Masyumi. Beliau juga pernah menjadi pemimpin Lasar Mujahidin dengan pankat mayor. Selanjutnya menjabat sebagai pemimpin Jawatan Agama Kabupaten Aceh Utara.

Pada tahun 1949 Teunku Syekh Abdul Hamid Samalanga di beri kepercayaan oleh perdana mentri Syafruddin Prawira Negara atas nama Presiden RI untuk melaksanakan misi Haji RI II. Misi tiu mengemban tugas untuk mencari bantuan ke Negara-negara Timurtengah dan sektarnya, sehubungan dengan dukungan Negara-negara itu terhadap perang kemerdekaan Indonesia pada Agresi Militer Belanda II. Di Mesir, misi Haji itu dengan giat mengadakan perundingan/pemicaraan dengan para pemimpin timur tengah, sehingga misi di anggap sukses mengemban tugasnya.

Tepat taggal 22 Oktober 1968 Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga bepulang menghadap sang pencipta, pada usia 66 tahun.

Anak tokoh Itu dalam Partai Golkar di Aceh, dan jadi Komisaris PT.PIM pupuk Di Kreung Geukeuh..
Yaitu Humam Hamid itu Anak ayah Abdul Hamid alias ayah hamid samalanga jadi Kominis di Aceh bisa dapat pangkat dan jabatan serta jadi profwsor dan di anggap tokoh hebat..

Coba ada bantah…?

Aceh Perlu Merdeka siapa Bisa memerdekakan Aceh dia kita kasih jadi Raja Aceh ?

Related posts
Uncategorized

Aceh Bukan Indonesia

Rumah Kami Bukan Indonesia… Banyak Netizen Bertanya Terutama Netizen Yang Berada Di Luar Aceh. Seandainya Aceh Lepas ( Merdeka ) Dari Tangan…
Uncategorized

15 Agustus Hari Kemalangan Aceh, Bukan Hari Damai Aceh

“REFLEKSI 15 TAHUN MoU HELSINKI ( 15-8-2005 – 15-8-2020 ) Semua Rakyat Acheh hari ini menjadi Hakim / juri untuk menilai dan…
Uncategorized

DJAWABAN ULEÈ BIRO PENERANGAN TNAD WILAYAH ATJÉH RAJÈUK TERHADAP YANG MENGAKU DIRI KETURUNAN RAJA ACEH DARUSSALAM

Trok seu- eue dari Fb ” Adhari S ” Contoh2 sifeut kaom durhaka keu bangsa dan nanggroe, ; Kelompok Aceh Sumatra, Publoe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *