ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Dalam NegeriDokumenHot NewsOpiniPers Rilis

GELAR TEUKU, CUT, TUWANKU, TENGKU, BUKAN WARISAN

Bukan Gelar Warisan | Dalam salah satu rapat tenaga ahli di satu instansi, saya pernah menyampaikan bahwa Gelar Teuku, Cut, Tuwanku dan Teungku bukanlah gelar yang diwarisi berdasarkan darah atau nasab, layaknya gelar Habib atau Sayed.

Hari ini saya coba posting kembali, mungkin membuka wacana diskursus dalam dialetika kita. Dimana saya menyaksikan beberapa kesalah-pahaman terkait hal ini. Jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya pada teman-teman yang berlatar belakang gelar tersebut.

Teuku atau Cut adalah gelar para Ulee Balang yang diberikan oleh Kerajaan Aceh terkait statusnya sebagai pegawai Kerajaan. Namun demikian, orang yang menyandang gelar ini setidaknya harus memiliki 16 syarat yang ada pada seorang Imum Mukim dan 6 syarat sebagai Ulee Balang. Seseorang yang tidak memiliki syarat-syarat dimaksud maka ia gugur menjadi seorang Ulee Balang.

Demikian juga, seorang Sultan. Posisi ini tidak diwarisi sebagaimana pemahaman sebagian orang Aceh saat ini. Seorang Calon Sultan harus memiliki 23 Syarat. Dan ia akan dipilih oleh 26 perwakilan; Mulai dari tingkat Geuchik sampai para alim ulama Ahlussunnah wal Jamaah (bukan Wahabi, syiah, murjiah, muktazilah wa ikhwanihim).

Oleh karena itulah, Sultan Aceh digelar dengan ‘Alaiddin’ Raja yang meninggikan panji agama Islam. Kön geujak peutinggi dröe atawa biëk dröe geuh.

Memang, Aceh dulu bukan negara ‘Democrazy’ seperti trend tata negara saat ini, pun bukan monarki. Aceh adalah Kerajaan dengan sistem Syura tanpa partai politik. Tapi mampu mencapai kegemilangannya, walaupun ada beberapa orang sawan yang menyangka bahwa adat dan budayanya primitif.

Yakinlah (walaupun dianggap primitif); Hukum, Qanun, Reusam, Adat, Budaya, dan Bahasanya telah membawa Aceh pada masa kegemilangan di Asia Tenggara. Dan itu mustahil dilakukan oleh beberapa penguasa Aceh pasca Kerajaan, walaupun ia alumni universitas langèt tujöh.

Maka dibalik sebuah gelar menyimpan tanggung jawab yang berat. Walaupun bukan gelar warisan tapi setidaknya bertingkah laku sebagaimana yang sudah diwariskan oleh Aceh adalah lebih baik. Terlepas apapun gelar kita, Aceh dan Islam adalah identitas yang selayaknya kita warisi. Salam Primitif dan Primata!

Neu Susoen Uleh : Haeqal Afifa

Related posts
BeritaHot News

MATI SYAHID UMMAT ISLAM ACEH, DALAM PERANG MENGUSIR INDONESIA'

KENAPA ACEH WAJIB MENJAGA KEMERDEKAAN’ Amalan wajib dengan Ilmu Sebab Ilmu adalah Ruhnya amalan. Allah perintahkan melalui Rasullah bagi ummat Islam untuk…
Hot News

Djawaban Staf Biro TNAD Tentang Siapa Musuh Pejuang?

1.na yang sereng that kheun meunoe di Facebook” hai pakon hana neu musyawarah bek saleng meudawa, sesama keudro dro dan bangsa ?…
Dalam NegeriSejarah Aceh

Untuk Wali Negara Dari Wali Tengku Hasan Bukan Untuk Wali Nanggroe Ala Jawa Dalam UUD1945 - Pancasila

◼Dekrit “Keramat” Wali Negara Aceh Tengku Hasan di Tiro || ▪Banyak pihak bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang akan menggantikan tugas Wali Negara Aceh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *