by

Fatwa Pendapat Abu Tumin Serta Abu Usman Kuta Kreung Terhadap Sambungan Perjuangan TAM ASNLF Dalam Nanggroe dan Presidium ASNLF Lua Nanggroe

Fatwa dan Pendapat Para terhadap Perkembangan Perjuangan TAM ASNLF Dalam Nanggroe dan Presidium ASNLF Lua Nanggroe

” ULAMA HAQ VS ULAMA SU’UK”

Abu dan ulama ada dua (2) golongan di Aceh, yang cinta mujahidin (ahli berjihad) dan ada cinta a’bidin (Ahli Atas Biaya Dinas), atau Ulama akhirat vs ulama dunia. Yang tinggal sekarang banyak a’bidin, sedangkan yang mujahidin telah banyak yang syahid seperti Syekh Ja Madinah dan keturunannya seperti Ja pakeh dan Pakeh Ibrahim yang syahid masa ratu sufiatuddin menjadi Ratu kerajaan Aceh setelah Iskandar Shani dan syekh Abdul Rauh syekh Di Kuala, syekh Hamzah Fansury, hingga Tengku Bantaqiah, keturunan Tengku M Jalil cot pling, Tgk syekh Hasan kreung kale, Abu Anan Lhoksukon, Abu Sulaiman lhoksukon, Ulee jembatan hingga Tengku Muhammad Dewi dll.

Keturunan Teungku Thjik Awee Geutah , tengku Pante Kulu, tengku Thjik Pante  Geulima, tengku Thjik diribe, Tengku Thjik i Samalanga, Tengku Keumangan dan Daud Beureueh, Tengku Abdullah Ujong Rimba hingga sekarang telah banyak yang syahid , keturunan Tengku Thjik Saman di Tiro dan keturunannya, hingga Tengku Hasan Muhammad, 3 Juni 2010. Serta banyak sekali yang tidak terhingga telah duluan syahid dalam mempertahan Agama Islam, marwah Agama Islam dan Bangsa Aceh.

Maka ulama telah terbelah dua golongan, semenjak dulu masa kerajaan Aceh Darussalam hingga saat ini, dan yang tinggal sekarang banyak keturunan golongan a’bidin kebanyakan karna berguru kepada Sheikh Abuya Muda Waly Al-Khalidi An_Naqsyabandy Al_Asyiy  mendapat ijazah Tariqat Naqsyabandiyah ber ibadah sulok, tariqat kalud, dan lainnya, maka lebih cendrung cara mengajar dan pratek sebagai Ahli Ibadat,  walaupun dari muridnya abuya juga ada yang cinta dan menjadi mujahidin, tetapi ramai juga yang menjadi pemelihara burung garuda, juga tidak berani berkata benar menentang kezaliman takut mati seperti Asy Syahid Tgk Bantaqiah atau pecah periuk nasinya.

Wallahualam,.

Dari penelusuran saya bersama guru mulia saya Abu Thjik Rayeuk dari masa ke masa beserta bersama nenek dan kakek saya yang telah duluan Almarhum dan syahid, bahwa kita jangan heran dan jangan gundah sebahagian ulama dan Tengku ragu dalam masuk perjuangan kemerdekaan Atjeh Meurdehka, baik masa fase awal hingga masa sekarang, yaitu masa TAM ASNLF. Dalam Nanggroe ini,  harapan kita semua, ini fase terakhir Perjuangan Agama Islam dan bangsa Aceh Meurdehka..

Hingga Aceh Kembali  Maujud atas Dasar negara Ber Qur an, hadits  , Ijma’ dan Kiyas serta Qanun Meukuta Alam Al Asyi seperti Aceh Jaya Islam masa Endatu Bangsa Melayu Acheh dulu.Insha Allah Amien…

Kita sajan Ulama
bukan Ulama sajan kita.
Bahkan kita perjuangan TAM ASNLF Dalam Nanggroe melanjutkan perjalanan perjuangan para pahlawan dan Ulama Mujahidin Aceh Meurdehka Terdahulu yang Tertunda Oleh para Pengkhianat bangsa Aceh Oleh sempalan GAM Mou Helsinki.

Baru – baru ini kami menjumpai guru senior Abu Usman Kuta Kreung dan langsung jumpa ABU Tumin Blang blah Deh Oleh 5 utusan dewan Majlis Komando pusat TAM ASNLF Dalam Nanggroe dari wilayah Atjeh Rayeuk Untuk Komando pusat TAM, dalam pertemuan tersebut Abu Tumin sangat bersyukur dan apresiasi atas memberikan tentang penjelasan ikhwal asal usul keturunan Tengku Thjik Muhammad Saman di Tiro dan keturunannya hingga Hasan Muhammad Tiro, “nyoe – nyoe katrep that lon seutoet atanyoe ” (silsilah keluarga wali dan penjelasan Qanun Al Asyi Meukuta Alam ) khuen Abu Tumin, kepada Utusan kami komando pusat TAM ASNLF Dalam Nanggroe Aceh. Dalam tersurat dan tersirat Abu Tumin telah meng Amini perjuangan Sambungan ASNLF / AM sah Dalam Islam dapat kekuatan hukum sejarah Legal ( history) dan Sah syahid dalam perjuangan.

Di tambah lagi oleh Abu, Asal masih Untuk meninggikan Kalimah Allah dan Rasul,( A’la Kalimallah Laa Ilaa Ha illallah Wa Muhammadarrasulullah.

Dalam kesempatan lain pihak kami Dari Biro Peunerangan TAM komando pusat ASNLF Dalam Nanggroe, telah mewawancarai guru senior murid Abu Kuta dalam hal kebenaran fatwa suatu hari di dayah Kuta Kreung Abu telah menfatwa : Sudah saatnya Aceh Tidak Ikut lagi Ke pusat Jakarta “maksud Abu NKRI Pancasila.”
Dalam kesempatan wawancara kami dengan guru senior murid Ulama kharismatik Abu Usman Kuta Kreung ini, yang namanya tidak ingin di sebutkan disini. Membernakan demikian fatwanya Abu kuta. Kita Aceh Sudah Saatnya Tidak Ikut Lagi ke pusat Jakarta maksud dari Abu..
Demikian perkembangan perjuangan dari para Abu dan Tengku-Tengku di Aceh! Alhamdulillah.

Neu seusoen Uleh : Abu Musafir Berkelana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed