by

Abu Seulimeum Dan Penguasa

⏸Abu Seulimeum dan Penguasa⏸

▪Suatu malam di Banda Aceh, dalam satu pertemuan antara saya dan Abi Muhibbussabri (Ketum PDA), adik alm. Al Mukarram Abon Muchtar Luthfi dan anak dari alm. Abu Abdul Wahab bin Abbas bin Sayid Al Hadrami pendiri Dayah Ruhul Fata Seulimeuem pada tahun 1946 .

▪Awalnya, kami bercerita soal keluaga antara kami dan Dayah Seulimeum. Secara pribadi, Dayah Ruhul Fata Seulimeum adalah keluarga kedua bagi kami setelah Dayah Malikussaleh Pantonlabu dan Mudi Mekar Jakarta.

▪Banyak pihak terjebak dan berasumsi bahwa alm. Abu Abdul Wahab Seulimeum itu adalah Abu Abdul Wahab Keunalôi yang tergabung dalam PUSA diawal-awal kemerdekaan Indonesia dulunya, dan pendiri Madrasah Najdilah, Keunalôi, Seulimeum. Padahal antara Abu Keunalôi dan Abu Seulimeum adalah orang yang berbeda, baik pergerakan,pandangan agama maupun politik.

▪Abi Muhibbusabri bercerita bagaimana sikap Abu dihadapan para penguasa kala itu, khususnya di Aceh. Ada hal menarik dan membuat saya selalu terkesan dari apa yang beliau ceritakan. Saat itu, alm. Abu di undang oleh Pemerintah pada salah satu acara pertemuan ulama Aceh di salah satu Hotel daerah Banda Aceh.

▪Menariknya, walaupun beliau ikut acara tersebut tapi Abu tidak menginap pada hotel yang telah ditentukan oleh panitia. Beliau lebih memilih Dayah alm. Abu Mamplam Golek sebagai tempat penginapan. Saat sesi coffe break, Abu lebih memilih break diluar hotel dari pada coffe break yang disediakan panitia dilokasi. Pun demikian, saat sesi makan Abu lebih memilih makan diluar hotel. Selama beberapa hari acara, sikap Abu selalu demikian.

▪Pernah, saat beliau keluar dari lokasi hotel. Abu bertemu dengan beberapa petinggi pemerintah dan panitia yang sedang santai di salah satu tempat makan, sembari mengajak beliau untuk bergabung bersama sebagai tanda kemuliaan. Hal itu tak mungkin beliau tolak. Lantas, sebelum beliau bergabung Abu lebih dulu menyuruh orang dekatnya untuk membayar semua makanan dan minuman para petinggi dan panitia tersebut. Tentunya hal ini bukan sebatas bentuk ke-rendahan hati beliau, lebih dari itu.

▪Kenapa Abu bersikap seperti itu? hingga menjelang Abu wafat pada tahun 1996, Abu menjawab banyak hal dari pertanyaan Jamaah yang datang pada beliau. Termasuk sikap Abu yang demikian pun beliau jawab bahwa: Ulôn hana ulôn padjöeh makanan djih bi, hana ulôn djép ié djih bi, dan hana ulôn éh bak kasöe djih djöek. Pakôen? Kareuna meunjöe djih salah, bak igöe djih djeut ulôn teunak!

▪Hal ini menegaskan kepada kita, bagaimana beliau menjaga jaraknya dengan penguasa bahkan dari hal-hal yang saat ini kita anggap ‘ték matöek arakaté’ dari pintu kekuasaan.

▪Catatan ini bukan untuk dibenturkan antara satu sikap ulama dengan ulama lainnya di Aceh baik dulu maupun saat ini. Tentunya, para ulama memiliki cara pandang berbeda dengan dalil berbeda dan tingkatan ilmu yang berbeda pula dalam merespon sesuatu. Kita hanya mengambil ibrah dari sikap para ulama kita dan mendoakan para ulama Aceh agar selalu dipanjangkan umurnya hingga ulama Aceh selalu menjadi “Tanglông Nanggröe ngôn Labang Donja”.

▪Karena yang mengenal ulama adalah para ulama. Bukan kita. Ulama bék neu benci, bék neucaci dan bék neuhina. Dan yang paling penting, Meumisée bék neusangka tupé, meudjanggöet bék neusangka udéung. Meuseureuban bék neusangka leubé, hana neuthée ka pancuri urëung.

Al Fatihah untuk para ulama Aceh.

Neususoen Uleh : Tengku Haekal Afifa

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed