ACMSeulamat Teuka di Website achehcybermilitary.org
Uncategorized

NKRI ADALAH NAMA LAIN SEBAGAI PENJAJAH SAMBUNGAN HINDIA BELANDA TERHADAP NEGARA ACEH DARUSSALAM”

RIS- RI- NKRI- ADALAH PENJAJAH SAMBUNGAN BELANDA TERHADAP ” NEGERA ACEH DARUSSALAM”

Markas Besar Rakyat Umum(MBRU)mengkoordinasi operasi-operasi Tentara Republik, BPI/Pesindo,Mujahidin dan PNI, PKI, dan PSI VS CUMBOK

Cerita-cerita tentang apa yang terjadi di Sigli saling bertentangan.Menurut sejumlah penerbitan lndonesia pertempuran mulai sesudah satuan-satuan Tentara Republik Aceh dan lasykar berusaha melucuti sekelompok uleebalang, yang pada gilirannya telah memperoleh senjata dengan merebutnya dari Jepang.

Versi ini dikemukakan dalam sebuah buku
yang diterbitkan Pemerintah Daerah Aceh, berjudul Revolusi Desember ’45 diAceh atau Pembasmian pengshianat Tanah Air.Menurut buku itu,sejumlah uleebalang tak lama sudah Jepang menyerah mulaimempersiapkan kembalinya Belanda dengan maksud memperkukuh kedudukan mereka pribadi. Mereka membentuk organisasi politik mereka sendiri,Pembangunan Indonesia, dan tentaranya sendiri,Barisan PenjagaKeamanan.

Komandannya adalah Teuku Daud Tjumbok, dari Desa Cumbok,dekat kota kecil Lammeulo, kira-kira 10 mil dari Sigli. Namanya juga disebutsebagai nama orang yang melalui perantaraan seorang bekas serdadu KNIL,
Sukarni, bersama dengan seorang Indonesia lain, yang bernama Ibrahim Pane
meng hubungi bekas perwira distrik Belanda Van Swiet di Medan.

Sebaliknya, SM Amin yang ketika itu menjadi wakil gubernur dan ketika masa pemberontakan Darul Islam menjadi gubernur Sumatera Utara, “tidak terdapat fakta atau keadaan untuk membenarkan” tuduhan bahwa golongan uleebalang adalah pengkhianat.

Ia menyebut, orang-orang yang bersimpati
dengan tujuan kaum ulama Islam dan membela tindakan yang merekalakukan terhadap golongan uleebalang biasanya suka menyebut adanya sepucuk surat dari golongan uleebalang di Pidie kepada Belanda di Medan
minta bantuan kepada mereka. Surat ini kata orang tertangkap prajurit prajurit Pesindo (BPI) yang memeriksa penumpang-penumpang kereta api diBireun.

Menurut keterangan yang sama, orang-orang yang membawa suratitu berusaha memusnahkannya dengan menyobekinya. Tetapi prajurit prajurit Pesindo sempat mengetahui isinya dengan menyusun sobekan sobekan itu kembali. Namun, mereka yang mengemukakan peristiwa itu hanyalah mengetahuinya dari omongan orang,dan tidak pernah melihat surat itu.

Selanjutnya mungkin saja cerita tentang hubungan Daud Tjumbok dengan Belanda belakangan dibuat.

Pertempuran di dan sekitar Sigli mulai sebagai salah satu dari banyak contoh dalam sejarah Republik Indonesia mengenai kelompok-kelompok bersenjata bersaingan yang saling berusaha memaksakan kekuasaannya dalam suatu daerah tertentu.

Dalam tahap yang paling awal yang menjadi
saingan pokok adalah Barisan Penjaga Keamanan dan kelompok BPI/Pesindo,
yang terlibat dalam pertempuran kecil-kecilan sekitar Lammeulo, benteng Daud Tjumbok.

Satuan-satuan Tentara Republik tidak turut serta dalampertempuran ini, tak ada prajurit Republik yang ditempatkan dekat Lammeulo, karena pimpinan Tentara sadar sepenuhnya akan kekuatan Barisan Penjaga Keamanan dan khawatir kalah sekiranya terjadi bentrokan
bersenjata.

Terjadi pertempuran hebat sesudah Barisan Penjaga Keamanan meninggalkan Lammeulo maju menuju Sigli dengan tujuan merebut senjata dari Jepang —walaupun musuh-musuh mereka menuduh mereka mempunyai alasan yang lain pula; karena menguasai Sigli berarti menguasaisemua jalan raya di Aceh Utara dan kepastian adanya pangkalan mendarat
bagi pasukan penyerbu Belanda dan terus menduduki posisi-posisi strategis dalam kota.

Kelompok-kelompok bersenjata lainnya, termasuk satuan-satuan TentaraRepublik, tidak dapat membiarkan adanya suatu tentara saingan, apalagi tentara yang dengan memper-oleh senjata Jepang menjadi terlalu lengkap
persenjataannya. Mereka sendiri pun mengepung Sigli dalam upaya melucuti
Barisan Penjaga Keamanan. Akibatnya, pasukan Jepang di Sigli menghadapi dua pasukan yang saling bertentangan, masing-masing mendesak merekamenyerahkan senjata mereka.

Di dalam kota sendiri golongan uleebalang
yang mendesak mereka. Satuan-satuan Tentara Republik dan kelompok kelompok bersenjata lainnya yang berkubu sekitar Sigli seluruhnya berusaha membujuk Jepang untuk menye-rahkan senjata mereka kepada wakil-wakil Pemerintah Republik di Aceh ketimbang kepada uleebalang serta mengancam kalau tidak, mereka akan menyerang Sigli.

Kelompok-kelompok bersenjata lainnya ini, seperti juga pada kesem-patan-kesempatan lain bila mereka ingin merebut senjata-senjata Jepang, memerintahkan para anggotanya secara massa ke Sigli. Di sini mereka merupakan ancaman baik bagi Jepang
maupun bagi uleebalang.

Untuk mencegah senjata Jepang jatuh ke dalam tangan uleebalang,akhirnya rakyat datang dalam jumlah ratusan ribu dan, karena mereka tidak bisa memasuki kota mengepungnya dari segala jurusan, sehingga kemudian tentara uleebalang yang menduduki kota tampaknya jadi terkurung oleh
ratusan ribu rakyat dan pada akhirnya tidak berani meninggalkan kota.

Ketika pihak uleebalang berusaha menerobos lingkaran pengepungan, dengan menem-baki musuh dengan karaben serta senapan mesin, pecahlah pertempuran.

Beberapa waktu kemudian diserukan gencatan senjata. MakaTentara Republik memperkenankan Barisan Penjaga Keamanan mundur keLammeulo dengan syarat mereka menyerahkan semua senjata yang mereka ambil dari Jepang kepadanya. Barisan Penjaga Keamanan meninggalkan Sigli,tetapi tanpa menyerahkan senjata mereka.

Menurut keterangan dalam”Revolusi Desember”,25 sebenar-nya mereka mundur ke Lammeulo membunuh dan merampok sepanjang perjalanan.

Setibanya di sana mereka mulai menyerang anggota-anggota kelompok kelompok bersenjata lainnya,khususnya BP Pesindo,dan mereka berusaha menduduki desa-desa
sekitarnya.

Dalam pada itu Markas Besar Rakyat Umum didirikan kelompok kelompok bersenjata lainnya pada 22 Desember 1945. Lalu markas besar inimengkoordinasi operasi-operasi Tentara Republik, BPI/Pesindo, dan Mujahidin antara lain. Sejumlah partai politik, seperti PNI, PKI, dan PSI jugaturut serta.

Markas Besar Rakyat inilah yang dalam pernyataan bersama dengan Pemerintah Republik Indonesia di Aceh, pertama-tama menyatakan golongan uleebalang pengkhianat Republik Indonesia, dan pada 8 Januari1946.
mengeluarkan ultimatum yang ditandatangani Teuku Panglima Polim Muhammad Ali dalam kedudukannya sebagai wakil residen Aceh dan Sjammaun Gaharu sebagai ketua Markas Besar Rakyat, menuntut agar para uleebalang di Lammeulo menyerah sebelum tengah hari 10 Januari.

dari Berbagai sumber

Related posts
Uncategorized

Aceh Bukan Indonesia

Rumah Kami Bukan Indonesia… Banyak Netizen Bertanya Terutama Netizen Yang Berada Di Luar Aceh. Seandainya Aceh Lepas ( Merdeka ) Dari Tangan…
Uncategorized

15 Agustus Hari Kemalangan Aceh, Bukan Hari Damai Aceh

“REFLEKSI 15 TAHUN MoU HELSINKI ( 15-8-2005 – 15-8-2020 ) Semua Rakyat Acheh hari ini menjadi Hakim / juri untuk menilai dan…
Uncategorized

DJAWABAN ULEÈ BIRO PENERANGAN TNAD WILAYAH ATJÉH RAJÈUK TERHADAP YANG MENGAKU DIRI KETURUNAN RAJA ACEH DARUSSALAM

Trok seu- eue dari Fb ” Adhari S ” Contoh2 sifeut kaom durhaka keu bangsa dan nanggroe, ; Kelompok Aceh Sumatra, Publoe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *